Friday, 9 August 2013

DELICIOUS FOODS = WEIGHT GAIN

Saya setuju..!! Makan makanan enak sama dengan kenaikan berat badan. Yah emang sih, muncul lagi pernyataan, tergantung seberapa besar porsi makannya. Tapi sih, jujur aja..biarpun body saya sekel alias gemuk..hehehe...sehabis liburan ke Bandung 2 hari 1 malam, saya sampai takut timbang berat badan. Takut timbangan teriak..! ahahahaha... Awalnya, saya segan jalan - jalan ke Bandung. Ibaratnya, bosen, bandung lagi bandung lagi. Tidak ada yang lain kah? Tapi tiba - tiba kakak sepupu perempuan saya yang kebetulan pulang setelah merantau di negeri orang, mengajak saya backpacker ke Bandung. Yaaa.. Oke lha, secara saya tidak pernah jalan dengan tema backpacker di dalam negeri. Beda kalau ke luar negeri, saya ini pasti masuk list backpacker kere..hehehe....Kakak sepupu saya tanya : "kita ke Bandung ngapain aja? "
Yang saya jaawab asal : " wisata kuliner ".. dan akhirnya, jadilah kami pergi ke Bandung berdua dan menginap di hostel. Tolong catat ya, HOSTEL bukan HOTEL..! Tahu dong bedanya? Kalau tidak tahu, sana cek di google.

Nasi Campur
Hari pertama, kami tiba di Bandung sekitar jam 11.30 siang dan perut sudah keroncongan. Maka saya dan sepupu saya sepakat untuk check in dahulu di hostel, baru cari makan. Setelah check in, kami cari makan di Pasir Kaliki. Kami makan Nasi Campur yang 100% di cap haram. Untuk ukuran nasi campur tenda, yaaahh..porsi minimalis dan rasanya standard sih. Hanya nasi putih, babi merah, babi panggang, baso goreng dan telur. Menurut saya, nasi campur tendaan ini enak banget. Secara, cuma modal tenda, di pinggir jalan pula, bisa gitu jualan nasi campur, yang memang rasanya not bad, serta daging semua, bukan kebanyakan lemak babinya. Beda lha kalau dibanding sama Nasi Campur di restoran Harum, atau Nasi Campur Kenanga, yang isinya macem - macem. Ada nasi, babi merah, babi panggang, ngo-hiang, siomay, telur dan sate babi. Yang bikin tambah enak adalah sambalnya yang lebih mirip jebakan batman. Saya yakin, para pembaca setuju, bahwa biasanya, namanya sambal di warung tendaan begitu, sambal yang disajikan, pedasnya bohongan. Tapi yang ini, asli cabe rawit, dan pedas banget. Saya cobain sedikit, minum sampai 3 teguk lebih. Pedasnya asli, gak nahan. Mungkin ini juga yang bikin orang kalap kalau makan.

Setelah makan nasi campur, saya makan lumpia basah. Yang sayangnya, saya tidak foto. Karena lupa dan terlalu seru buat makan. Lumpia basah di Bandung, beda dengan lumpia basah dari Semarang. Kalau di Bandung, langganan saya, persis di depan toko sosis di Jl. Pasir Kaliki. Satu porsi harganya IDR 10.000. Jadi, si penjual akan tumis bawang, telur, tauge dan bangkoang. Setelah ditumis, langsung disiapkan kulit lumpia dan sudah dilapis bumbu kental yang lebih mirip lendir ( saya tidak tahu namanya ), setelah itu, tumisan dituang diatas kulit lumpia, lalu dilipat dan siap disantap. Rasanya? Enaaaakk..!! Top abis deh dan harus di cobain. Mungkin bila anda masih di Bandung, coba segera dicoba dan tes sendiri rekomendasi saya.


Nasi Timbel
Malam harinya, kami kepengen nongkrong di Dago Tea House, tapi buta arah, alias gak tahu lokasinya dimana. Beruntung, supir angkotnya baik dan dia tahu lokasinya, dia mau anterin sampai Dago Tea House. Makanan yang disajikan ada bermacam - macam, mulai dari menu makanan Jawa Barat, sampai Chinese Food, ada semua. Saya pesan Nasi Timbel, Karedok, Sate Kambing. Yah, soal rasa sih, enak juga. Saya suka ayam bakarnya. Ayam bakarnya cukup kering kulitnya, dan bumbunya pun meresap, biarpun cuma bumbu kecap dan agak sedikit pedas. Karedoknya juga enak, tapi anehnya, kami pesan pedasnya sedang, tapi koq begitu dimakan, pedasnya lebih dari sedang. Padahal cabe kan lagi mahal, tapi tetap terasa pedasnya. Jadi saya rasa, biar cabe mahal, tetap tidak boleh menurunkan standard kualitas makanan. Bisa jadi masukan buat beberapa teman yang mungkin usaha berdagang makanan. Jangan turunkan standard makanannya, misalnya mengganti cabai dengan bahan lain, sehingga rasanya pedas, tapi bukan pedas cabe. Selain membahayakan si penyantap, tentunya anda juga tidak mau usaha jadi berantakan karena ketahuan kecurangannya oleh polisi dan akhirnya digiring ke polisi gara - gara bahan tidak jelas kan? Hehehe.. Saya juga makan sate kambingnya. Well, namanya kambing biasa dagingnya emang agak sedikit keras, tapi kebetulan yang saya makan cukup empuk, tapi cenderung kering, saking ngipas satenya keasikan dan daging kambingnya nyaris gosong. It's okay, lagipula, bumbu satenya enak dan sate kambingnya juga cukup empuk. Dago Tea House ini menyajikan pemandangan yang cukup spektakuler, walau tidak se-spektakuler kalau kita makan di The Peak atau The Valley. Tapi harga makannya terjangkau koq. Saya makan 3 set menu itu, cuma habis sekitar IDR 80.000. Murah kan? Jadi pengen ke Bandung...

Sate Kambing & Karedok