Thursday, 20 August 2015

PART 3 : LIBURAN AGAK MENDERITA : We are Coming Home ( terapung - apung..lagi.. )

Pagi itu kami bangun. Matahari bersinar cerah, udara laut terasa segar dihirup. Hmmm... dan tentu saja, setelah itu lapar menyerang. Saya pikir saya bangun kesiangan, karena semalam rencana jalan - jalan ke menara teropong sekitar jam 9 pagi. Saya pikir sudah jam 8 pagi, tapi teman saya langsung koreksi, kalau saya bangun jam 6.30. Wow,,mataharinya udah cukup terang benderang padahal baru jam 6.30. Setelah malas - malasan, saya bangun dan cari sarapan. Saya dan teman - teman sepakat untuk makan indomie. Saya bahkan sampai makan 2 porsi indomie pake telor plus susu coklat. Kebayang gak gimana laparnya saya setelah hampir 2 hari penuh makan makanan kurang gizi? Sekarang saat menulis blog aja, saya jadi ngiler pizza. Setelah sarapan dan bersih - bersih selesai, kami pun bersiap jalan mencari ojek. Yep, ojek! Kenapa? Heran di pulau ada ojek? Jangan heran lah. Menurut saya motor itu memang kendaraan paling ramah dan efisien. Kenapa? kalau harus diangkut ke pulau, pakai kapal tempel juga bisa. Bensin gak perlu banyak - banyak. Kondisi jalan di pulau, sudah pasti gak ada yang beton atau aspal. Kalau naik mobil, pulaunya juga gak gede, jalan raya yang ada bahkan lebih kecil dari ukuran mobilnya. Jadi paling cocok memang harus naik motor. 

Jalanan menuju Pantai Pasir Hitam
Semalam, salah satu teman sudah tanya - tanya biaya sewa motor atau ojek, bahkan sampai nanya sewa penginapan. Biaya sewa motor/ojek IDR 50.000 per motor. Sedangkan rumah penduduk yang dijadikan penginapan, disewakan IDR 300.000 per rumah. Khusus sewa rumah, berapapun orang yang tinggal di dalam 1 rumah, tetap hitungnya IDR 300.000 per rumah. Termasuk murah. Tapi jangan mengharap rumahnya kayak rumah di kota. Namanya rumah di pulau biasanya ya rumah desa biasa. Walau rata - rata rumah di Pulau Sebesi dindingnya sudah bertembok. Untuk sewa ojek juga tidak bisa mendadak. Kalau bisa 1 hari sebelum sudah info untuk pesan ojek nya. Kami sendiri dari malam sudah coba kontak yang punya motor, tapi gak diangkat. Jadi lah akhirnya kami nekad ke tempat sewa motor / ojek ini. Kami sewa 5 motor sekaligus. Begitu jalan di jalanan tanah dan debu, saya sampai ngebayangin : "Mungkin keren kali ya, kalau ini 5 motor harley dan bukan 5 motor bebek? tukang ojek pakai kacamata hitam dan jaket kulit hitam.. trus tiba - tiba muncul dari balik debu jalanan dengan kacamata, jaket dan motor mentereng? tagline : The Harleys in Sebesi Island". Hahahahaha.. sayang aja, abang ojek nya body kurang geger kayak pengendara motor gede di film - film Amerika. 


Pantai Karang Lebar / Karang Luas
Setelah berpegal - pegal dengan pinggang dan pantat, tibalah kami di menara teropong krakatau. Saya sendiri berpikir namanya menara tempat teropong harusnya tinggi dan gede. Boooo... ini mah cetek banget. Ukurannya paling hanya seukuran rumah 3 lantai, dengan luas 3m x 3m. Kecil bangetttt..Sayang saya tidak foto menaranya. Saat tiba, pas lagi ada kabut yang menghalangi pandangan dari Pulau Sebesi ke Gunung Krakatau. Jadi saya tidak bisa melihat Gunung Krakatau. Menurut penduduk lokal, biasanya tanpa teropong pun, bila tidak berkabut, Gunung Krakatau itu terlihat jelas dari pantai. Akhirnya, untuk menghibur hati sedih karena tidak bisa meneropong Gunung Krakatau, maka kami pun foto - foto di pantai. Pantai yang ada di sekitar menara teropong ini, semuanya dipenuh karang. Dibilangnya Karang Luas, karena memang luas dan mirip lapangan, karena karangnya tidak runcing - runcing menonjol. Namun membentuk suatu daerah hamparan luas. Kalau tidak pakai sepatu atau sandal, sudah pasti kaki anda berdarah - darah karena diadu dengan batu karang.


Pantai Karang Luas
Dari sana, kami menuju pantai pasir hitam. Ya memang sih, pasir di pantai ini halus dan warnanya agak hitam, bukan coklat. Tapi dalam bayangan saya, yang namanya hitam, harusnya yang hitam pekat, bukan agak hitam atau agak abu - abu gelap. Pantai Pasir Hitam cenderung sepi, dan tidak ada wisatawan. Karena memang yang tahu hanya penduduk lokal saja. Saya saking sukanya duduk dibawah pohon di tepi pantai, sambil dengerin suara ombak, rasanya jadi kebayang : " nikmat ya, kalau bisa duduk dibawah pohon, melihat laut dan dengerin suara ombak sambil ngopi dan browsing internet? trus menikmati angin laut yang sepoi - sepoi. Indah benar hidup ini kalau bisa jadi kenyataan! " Setelah puas main - main di pantai, kami pun kembali ke penginapan melewati jalanan yang bergelombang dan berlubang. Pinggang ini mau patah rasanya, tapi untung terbayar dengan indahnya pemandangan yang kami nikmati. 


Begitu kami berlima tiba di penginapan, kami langsung bertukar cerita dengan 6 teman kami dari kelompok lain yang ikut hiking di Pulau Krakatau. Mereka cerita bahwa capek banget hiking di atas pasir. Butuh tenaga extra untuk hiking di atas pasir. Walau bagus sih pemandangannya karena kiri kanan semuanya pohon pinus. Namun saat pulang, karena ada 1x sesi snorkling di Lagoon Cabe, teman - teman kami tidak bisa langsung pulang. Malah harus ikut terapung di dalam kapal selama 15 - 30 menit, namun pada akhirnya, sesi snorkling itu pun batal, karena ombaknya besar dan kapalnya juga ikut terombang ambing sampai salah satu teman kami puas mabuk laut, bahkan muntah - muntah di kapal.  Saya jadi ikutan pengen muntah dengernya. Begitu tahu bahwa ombak cukup tinggi, penduduk lokal pun menyarankan agar secepatnya pulang, jangan sampai kesorean, karena makin sore ombaknya bisa makin tinggi. Untung saja, tidak lama panitia tour ini mengumumkan jam pulang jam 14.00 siang. Kami pun berkemas dan menuju dermaga untuk siap - siap pulang. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kami pun memutuskan untuk duduk di atap kapal. Ya atap kapal! Kalau pada bertanya, " emang gak panas? gak takut hitem? gak takut angin?", saya akan bilang, " kalau udah dihadapan mabuk laut, mending saya bertahan panas - panasan dan angin - anginan deh, daripada mabuk laut sampai muntah - muntah. " 

Pantai Pasir Hitam

Pemandangan dari atap kapal
Akhirnya saya dan teman - teman, kami berlima duduk di atap kapal. Sedangkan 6 teman baru kami, memilih kapal lain yang lebih manusiawi. Gimana rasanya duduk di atap kapal? Rasanya kayak lagi arung jeram dan naik kora - kora. Saya biasa minum antimo 1 tablet bisa langsung tidur, ini tidak ngantuk sama sekali. Saking takut jatuh dari atap kapal karena menerjang ombak. Belum lagi kami juga harus jaga tas masing - masing, jadi mana ada waktu buat ngantuk dan tidur? Saya harus acungin jempol melihat salah seorang nelayan bisa asik tiduran di atap kapal, persis di pinggirnya. Saya dan teman -teman yang duduk di tengah atap aja waswas. Ckckckckc.. saya langsung kagum. Perjalanan 1,5 - 2 jam dan duduk di atas atap kapal emang agak bikin boring. Secara kiri kanan cuma ada air laut dan ombak. Boro - boro ada putri duyung atau cwo ganteng lagi berenang. Sepiii..sampai saya sendiri bosan. Duduk udah pegal, foto - foto udah puas. Mau ngapain lagi? tidur ngeri jatuh menggelinding ke laut. Serba salah! Saya udah pakai kain bali buat menutupi muka supaya tidak kena matahari terlalu parah. Walau tetap saja, kulit saya jadi agak tanning gitu. Setelah 1 jam terapung, tidak lama saya lihat seorang bule keluar dari dalam kapal dan manjat atap kapal. Biar kata kulitnya putih dan emang sudah pucat, saya yakin 100% dia juga mabuk laut. Secara, gimana gak mabuk laut dengan kapal jendela kecil dan langit - langit yang kecil gtu? Belum lagi gelombang laut yang tinggi. Saya yang duduk di atap aja bisa beberapa kali kecipratan air laut, apalagi dia yang duduk didalam kapal?!


Pasir Hitam
Setelah tiba di Pelabuhan Canti, saya pun turun dan segera mencari Indomart atau apapun yang ada kata 'mart' nya. Saya mau minuman dingin dan es krim. Saya langsung beli es krim dan pocari sweat. Gilaaa..!! seger banget rasanya..! Begitu berkumpul kembali dengan kelompok kami, saya lihat teman kami ada 1 yang sudah mabuk laut parah. Muka pucat pasi, bahkan katanya sudah puas muntah berkali - kali di kapal. Kami pun langsung suruh dia minum susu beruang, makan yang manis - manis dan yang dingin - dingin biar agak segar sedikit. Dari Pelabuhan Canti, kami disuruh lagi naik angkot ke Pelabuhan Bakauheni. Dan kali ini, biar kata sama sekali gk macet, kami baru tiba di Pelabuhan Bakauheni sekitar jam 19.00 malam. Kami pun makan dulu, baru setelah itu naik ke kapal. Kami dapat kapal jam 20.30. Suasanya berbeda jauh dibanding saat kami berangkat. Sepanjang koridor dan lorong pelabuhan menuju kapal, sepiiiii...beneran sepiii banget.. cuma kami bersebelas aja. Saya sampai merasa gak yakin kalau ini menuju kapal ferry saking sepinya. Namun untung juga sih sepi. Kami sudah lelah kalau harus adu body lagi hanya untuk masuk kapal ferry. 


Kelas Lesehan
Kami segera masuk ke dalam kapal ferry. Tidak tahunya, mereka tidak ada kelas II AC. Hanya ada lesehan AC dan ekonomi. Terpaksa kami ambil yang lesehan. Tadinya saya agak gak suka. Namun begitu saya bandingkan, lesehan masih much better daripada yang ekonomi. Jadilah saya duduk di kelas lesehan. Kabar baiknya, ternyata malam itu, petugas kapal ferry ini memang punya taste. Mereka menyediakan jasa pijat. Duuhh.. enaknya! saya sih gak minta dipijat, secara tukang pijatnya cowo semua, gak ada yang cewe. Ditambah, mereka juga puter film yang bagusan sedikit, setidaknya film hollywood, seperti Fury, Journey to the central earth. Beda banget sama film macam tutur tinular , dkk. Kalau mau dibuat perbandingan, lesehan sebenar enak juga. Hanya saja, biar kata itu kapal ferry besar, begitu saya tiduran / telentang, saya tetap bisa merasakan tarikan kapal bahkan bisa merasakan gerakan gelombang laut nya. Berbeda kalau kita duduk di sofa atau kursi tidak begitu terasa. Tapi begitu tiduran, terasa sekali tarikannya. Namun berhubung ada film bagus, saya cuek aja sampai tidak terasa perjalanan telah berakhir dan kapal sudah merapat di Pelabuhan Merak. Sampai di Pelabuhan Merak, kami semua segera ke WC karena perjalanan masih cukup jauh. Saya sendiri tiba di rumah pukul 01.00 dini hari. Sedangkan teman - teman saya yang lain tiba di rumah pkl 2.00 dini hari. 

Secara keseluruhan, ini liburan tercapek dan menyiksa yang pernah saya jalani. Mungkin karena memang tour operator yang membuat acara ini, benar - benar hanya tahu bagaimana berbisnis / cuma mau duit tapi tidak tahu cara entertain tamu. Kalau harus jujur, saya kecewa dengan layanan tour operator tsb. Semuanya tidak terkoordinasi dengan baik. Saran saya, kalau pakai tour operator lokal, apalagi trip ke pulau, harus hati - hati dan rajin cek jadwal serta penginapan. Next time, saya akan langsung tolak mentah - mentah liburan yang kayak begini.

Pagi di pantai pulau sebesi

Wednesday, 19 August 2015

PART 2 : LIBURAN AGAK MENDERITA : Terapung - apung di Laut

Sesuai judulnya, setelah tiba di Bakauheni bagai zombie, kami terapung - apung dalam kapal lagi selama hampir 6 jam. Ketika kami tiba di Bakauheni, kami disuruh naik angkot yang sudah disediakan menuju pelabuhan kecil, namanya Pelabuhan Canti, sekitar 1 jam lebih dari Bakauheni. Subuh - subuh begitu, karena takut masuk angin, sampai di Bakauheni, kami buka bekal, nasi dan teri balado buat isi perut daripada masuk angin dan mabuk laut pada saat menyebrang dari pelabuhan Canti ke Pulau Sebesi. Sepanjang jalan dari pelabuhan Bakauheni sampai Pelabuhan Canti, saya untungnya bisa tidur, sehingga bisa mencharge tenaga buat snorkling pagi.

Pelabuhan Canti
Begitu tiba, langit masih gelap di sekitar pelabuhan canti, jalanan saja sepiii bangeett. Cuma ada warteg yang buka, itupun yang beli adalah peserta tour yang mau menyebrang ke Pulau Pahang atau Pulau Umang atau ke Pulau Sebesi. Setelah tiba, saya langsung cari WC umum, cuci muka, ganti baju buat snorkling. Sarapan di warteg, setelah itu bersiap naik ke kapal. Sekitar jam 7 pagi, kami sudah siap menuju kapal yang akan mengantar ke tempat snorkling. Kapal yang dipakai menurut saya tidak besar, secara cuma kapal tempel. Hanya saja, ruanganya kecil, sampai saya perlu menunduk setengah membungkuk dan membuat pinggang dan punggung saya sakit, ditambah jendela kurang lebar, hal ini membuat penumpang gampang mabuk laut karena luas pandangan mata jadi sempit. Sepanjang jalan menuju tempat snorkling, saya hanya bisa tidur bersandar pelampung dan tas.
Spot snorkling pertama adalah Pulau Sebuku Besar. Hari itu, pas laut agak butek. Kalau dari atas perahu memang kelihatan ikan - ikan nya berenang, tapi begitu menyelam, pemandangan bawah lautnya jadi buram dan tidak kelihatan,. Menurut para nelayan dan penduduk desa, waktu paling bagus mengunjungi tempat ini sekitar bulan Maret.


Pemandangan laut Sebuku Besar
Saat tiba di Pulau Sebuku Besar, saya langsung saja bersama 3 teman nyebur ke laut. Sedangkan satu teman saya tiduran karena mabuk laut. Ternyata keputusan untuk menyebur itu keputusan yang salah, karena setelah kami menyebur, ternyata ombak cukup besar, sehingga hanya bisa snorkling sebentar, setelah itu naik kembali ke kapal. Begitu di dalam kapal, mabuk laut datang menyerang. Bahkan sampai saat saya menulis blog ini, rasanya badan saya masih bergoyang seperti masih duduk di dalam kapal..! Teman saya ada yang muntah, lalu ada yang hanya bisa bersandar di dalam kapal. Saya langsung otomatis fokuskan pendengaran saya ke suaran mesin kapal,  lalu memejamkan mata. Akhirnya saya tertidur juga. Saat ke spot snorkling kedua, saya terbangun dan benar saja, ombaknya cukup besar, sehingga lagi - lagi, kami yang duduk di dalam kapal langsung pusing dan mabuk laut. Setelah sesi snorkling selesai, kami pun menuju ke Pulau Sebesi, ke tempat penginapan kami berada. Kami tiba sekitar pukul 13.00 di Pulau Sebesi. Penginapannya menurut saya, lebih bagus daripada saat saya menginap di Pulau Tidung. Jendela dan pintu penginapan semua menghadap ke laut, jadi udara laut masuk ke dalam kamar dan membuat kamar tidak terlalu panas. Ditambah, langit - langit kamar atau plafonnya cukup tinggi. Jadi menurut saya, tempat penginapannya cukup baik untuk ditempati.

Jangan bertanya pada saya seperti apa menu makanannya. Karena menurut saya, namanya liburan ke pulau, apalagi daerah kepulauan di indonesia, jangan terlalu berharap makanannya enak dan wah. Namun secara keseluruhan, kalau saya harus kasih nilai dari skala 0 - 100, saya kasih nilai 60 untuk menu makanannya. 

Listrik di Pulau Sebesi hanya ada dari jam 18.00 - 24.00. Jadi saat jam menunjukkan pukul 18.00, semua orang otomatis mengeluarkan segala macam jenis colokan. Dari colokan iPhone, smartphone, colokan batere kamera, colokan powerbank, semua keluar. Kabel langsung berseliweran di dalam kamar. Sampai saya sendiri bingung, saking itu kabel panjang banget, saya melihat teman saya menggulung kabel aja langsung takjub.

Kamar tempat menginap
Malam harinya, saya hanya sanggup duduk - duduk di sotoh penginapan sambil mengobrol dengan beberapa teman. Teman saya yang lain sudah tertidur pulas karena nyaris semalaman tidak tidur. Sedangkan beberapa teman lain, karena tuntutan pekerjaan mereka yang harus memberikan sumbangsih kepada masyarakat, maka malam harinya, mereka berkeliling ke desa tidak jauh dari tempat kami menginap. Kalau berdasarkan info teman - teman, mereka melihat bintang di langit. Suatu pemandangan yang jarang, bahkan mustahil bisa dilihat di Jakarta. Bintang bertebaran di langit malam, sambil merasakan angin sepoi - sepoi dari pantai, membuat suasana lebih indah. Beberapa teman lagi, bahkan ikutan nonton panggung dangdut hiburan masyarakat setempat walau untungnya tidak membuat heboh penduduk sampai jadi bintang tamu di acara dangdut tersebut. Hehehehe..

Setelah acara panggung dangdutan, kelompok kami, bertotal 11 orang, langsung rapat dan berdikusi mengenai acara besok. 6 orang yang tadinya mau extend, akhirnya akan ikut pulang besok hari bersama dengan rombongan. Dan sampailah di masalah paling pelik. Besok mau ngapain? Kalau lihat jadwal dari tour operator, kami harus bangun jam 2.30 pagi, lalu jam 3.30 menyebrang ke pulau Krakatau buat hiking dan pasang bendera merah putih. Setelah itu sarapan, lalu lanjut snorkling di Lagoon Cabe. Saya sih langsung menentang dan jujur saya sendiri kecapekan. Ditambah sebelum pergi saya juga sudah kena flu. Untungnya, salah satu member kelompok kami dapat info dari penduduk setempat untuk kegiatan keliling pulau. Di Pulau Sebesi, bisa melihat - lihat danau, meneropong Gunung Krakatau, lalu bermain di pantai di ujung pulau. Waahh.. saya langsung tertarik. Jadi kami berlima memutuskan untuk mencoba keliling pulau. Sedangkan 6 org yang lain, memutuskan trekking ke Gunung Krakatau. 

Kapal Tempel

To be Continue...

Tuesday, 18 August 2015

PART 1 : LIBURAN AGAK MENDERITA : Kisah di Pelabuhan Merak - Pelabuhan Bakauheni

Yang namanya liburan pasti maunya senang - senang, santai, bangun siang. Tapi ini pengecualian buat liburan yang saya jalani bersama 4 orang teman kantor. Jadi begini awalnya.
Teman saya melihat di website pemandangan pulau umang, krakatau, dll, sampai akhirnya dapat kontak tour operator yang bisa bantu arrange perjalanan ke pulau tersebut untuk 3 hari 2 malam, walau open trip ( gabung dengan group lain jadi gak cuma group kita sendiri, kalau bahasa orang travel, mirip dengan yang namanya Seat in Couch ).
Biayanya IDR 475.000 per orang, abis nego sana sini, akhirnya dikasih diskon jadi IDR 400.000 per orang. Namun dasar cuma incer harga murah, temen saya ini tidak perhatiin lagi itinerary, jadwal, hotelnya dll. Sampai 1 hari sebelum berangkat, kami baru perhatiin itinerary yang menurut saya kurang manusiawi. Seriously, saya bilang kurang manusiawi. Gak usah saya sebut apa nama tour operatornya, tapi yang pasti, gak cuma group saya yang kecewa, namun ada beberapa group lain yang kecewa. Kenapa kecewa?

Biaya tambahan ke Kelas II AC
Dimulai dari jam kumpul. Hari pertama, tgl. 14 Aug, peserta tour diminta kumpul jam 23.00 di Pelabuhan Merak. Boooo... jam 23.00!! Saya dan teman - teman menunggu sampai terngantuk - ngantuk, secara kita juga tiba di pelabuhan merak itu lebih awal, sekitar jam 22.00. Jadilah kami duduk di tempat paling manusiawi buat nunggu, yaitu Dunkin Donuts. Itu tempat paling kece buat nunggu di Pelabuhan Merak, sisanya... ya gak usah saya jelaskan deh ya. Panitia Tour baru tiba persis jam 23.00 , itupun mereka belum pegang tiket. Yep, BELUM PEGANG TIKET..! Maaf - maaf deh, saya dan teman - teman bekerja di bidang jasa, dan tahu how to entertain the guest, rasanya pengen jambak - jambak panitia nya. Gila, suruh kumpul jam 23.00, tapi belum hold tiket sama sekali..! Akhirnya setelah menunggu sekitar 30mnt, saya lihat panitianya baru beli tiket dan pegang tiket buat sekitar 80 orang. Kami otomatis minta tiket duluan, tapi panitia bilang, nanti akan dibagikan pada saat kapal mau berangkat. 
Maka komplain lah teman saya :
Teman saya :  " mba, saya perlu tiketnya supaya bisa upgrade ke kelas VIP. "
Mba tour : " mba, kalau mau upgrade itu harus langsung bayar di tempat, maksudnya begitu mba masuk ferry, cari duduk di kelas VIP, begitu dapat, nanti bayar langsung ke awak kapal. Namun gak semua kapal punya kelas VIP "
Guuubbrrraakkk...
Saya dan teman - teman sampai ngeliatin itu antrian orang yang penuh sesak. Kebayang donk, mesti kayak gimana perjuangannya supaya saya dapat seat VIP?


Bagian dalam kelas II AC
Akhirnya, Setelah menunggu lagi, sampai mati gaya, baru lah kami masuk ke kapal Ferry sekitar jam 1 pagi. Begitu kami masuk, kami langsung jalan cepat setengah lari menyusuri lorong dan koridor supaya bisa kebagian tempat duduk di VIP. Really..! Thanks God, walau berdesak - desakan, kami berhasil block 11 kursi VIP, buat group kami sendiri, dan group lain yang baru kami kenal. Namanya VIP kapal ferry di Indonesia, beda sama ferry Batam - Singapore, apalagi sama ferry Hongkong - Macau, bedanya macam surga dan neraka. Kapal Ferry yang saya naiki ini bener - bener barbar. hahahaha... beneran..! udah ada sofa, tapi saking penuh, ada penumpang yang gak kebagian kursi terpaksa ngedeprok alias lesehan di lantai, bahkan sampai keluar, sampai di lorong - lorong kapal dan bikin orang susah buat jalan kalau mau WC. Begitu ke WC, kudu bilang " permisi,.,.permisi" ampe berpuluh - puluh kali.. belum ngeri kalau gak sengaja injek kaki orang, mana body saya gede begini.. ckckckkc.. polisi cepek aja kalah!

Penderitaan saya, tidak sampai disitu. Begitu duduk, biar kata sofa ya, tetep aja, pantat ini berteriak saking pegel dan panas duduk mulu, padahal perjalanan dari Merak sampai Bakauheni itu sekitar 1,5 - 2 jam. Susah banget untuk tidur dengan posisi duduk yang enak. Baru mau tidur, diputer film catatan si boy, Warkop, sampai Tutur Tinular. Saya sampai bercanda sama teman saya " Jangan bilang abis ini, dia puter film Misteri Gunung Merapi "  Spontan teman - teman saya pada ngakak. Belum lagi lagu pembukaan catatan si boy yg mirip - mirip Michael Jackson kalau teriak " Aaauuu.. "..ahahaha.. cuma jujur, versi Indonesia, " aaaauuu " nya beda, kayak orang kesakitan..berisik..! Sepanjang jalan, saya serasa jadi zombie karena kurang tidur. 

Pilihan kelas di ferry



Akhirnya penderitaan saya berakhir, saat saya dapat info bahwa kapal sudah merapat di Bakauheni. Saya sampai pengen nangis, saking udah ngantuk tapi gak bisa tidur, trus badan sakit semua. Ya ampun,. tour murah emang kadang penuh jebakan batman.

Thursday, 31 July 2014

EATOLOGY

Saya dan teman - teman nongkrong saya, selalu punya keunikan sendiri dalam hal makanan. Kalau soal makan, pasti gayanya Hedonis bangeett.. Hahahaha... Selalu mau coba makanan yang aneh dan jarang ada orang yang mau coba makan. Selain unik dalam hal makan, kalau kami mau kumpul aja, tidak pernah pakai rencana, tapi langsung main culik di hari yang sama. Pokoknya selalu tiba - tiba tanpa ada rencana. Seperti kemarin, tiba - tiba kita kumpul nonton Step-Up All In, padahal gak ada rencana nonton. Setelah itu langsung -pergi makan. Kami makan di restoran, namanya Eatology. Letaknya di daerah menteng, Jl. KH. Agus Salim. Sepanjang jalan, isinya makanan semua. Untungnya eatology ini berupa restoran yang cozy abis. Kami makan beberapa jenis menu, walau tidak semua  saya foto, tapi akan saya bahas juga.


Salt Pepper Chicken Wings
Menu Appetizer, kami pesan Fried Shroom, Baked Potato dan Salt Pepper Chicken Wings. Fried Shroom, udah pasti intinya jamur digoreng pakai tepung. Isi jamurnya, jangan tanya deh. Gede, dan berasa jamur. Ciri khas makanan eatology ini, yang namanya mayonaise, dibuat dari yogurt, jadi rasanya bukan agak asam lagi, tapi asam dan segar. Waktu saya makan Fried Shroom, selain tepung dan jamur, di dalamnya dikasih sedikit yogurt, jadi agak asam. Namun kalau dipikir - pikir, namanya gorengan itu kan berminyak ya, jadi cocok banget kalau di kasih yogurt. Baked potato, tidak ada yang special, hanya kentang utuh, dipanggang, toppingnya dikasih yoghurt dan keju slice. Yang paling enak, Salt Pepper Chicken Wings. Satu porsi isi delapan slice. Rasanya? Enaaaakk...apalagi gitu dicocol sama yoghurt. Hmmmmm.... bumbunya sih indonesia banget, pakai cabe kering potongan, ada sereh iris, daun bawang iris, cocok buat lidah orang indonesia. Bumbunya agak sedikit pedas - pedas nikmat. Yang oke lagi, bumbunya meresap ke dalam ayamnya.


Spaghetti A.O.P Tuna
Menu utama, kami pesan Spaghetti A.O.P Tuna. Bukan pasta atau fettucini yang kaya tomat dan keju, tapi ini smaa sekali gak ada pasta atau keju yang overdosis. Lebih tepatnya, ini spaghetti Aglio Olio Tuna. Rasanya lebih ringan, dan tidak medok, tapi banyak minyak. Bumbunya pedas, apalagi kalau anda bukan penyuka cabe, pasti kepedasan makan Spaghetti ini. Isinya tuna iris, dan ditaburi keju. Saya akui, menu spaghetti ini, Top markotop, walau masih lebih enak Spaghetti Aglio Olio di Pisa Cafe. Hehehehhe..  Selain Spaghetti, kami juga pesan Pizza. Asli, pizza nya crunchy abis..! Makan pizza, jadi ingat, pas lebaran tgl. 28 Jul, saya dan teman - teman bikin pizza. Rasanya udah eneg dan kenyang bangettt makan pizza. Mana pizzanya itu bener - bener pizza, dan tidak tipis crunchy gitu, mirip kayak pizza hut, bukan izzi pizza. Tau donk apa beda izzi pizza dan pizza hut? Rata - rata sih, kalau izzi pizza, roti pizza cenderung tipis, sehingga tidak eneg kalau makan banyak - banyak. Kalau Pizza Hut, saya akui, roti pizzanya cenderung tebal. Jadi baru makan, 1 - 2 potong aja, udah kenyang. 


Andre's Pizza
Ini anehnya pizza di Eatology. Kalau pizza di eatology, seriusan crunchy..! Garing kayak kerupuk. Tapi booo... enaknyaa..padahal toppingnya cuma saus tomar, keju, smoked beef, dan telur. Nama menunya Andre's Pizza. Rasanya enak, dan cocok banget sama tekstur tepung rotinya yang crunchy. Gak boong deh. Enak bangeettt...! Kalau soal harga, namanya restoran ya, kayaknya gak ada yang murah, tapi harganya standard. Kami makan berempat, dengan total menu 9 termasuk minum dan 1 menu take away, habis IDR 440.000, yah, seorang IDR 100.000. Lumayan lha ya berbanding dengan rasa makanan yang enak, menurut saya gak rugi - rugi amat dicoba. Mari makan..!

Friday, 27 June 2014

MAKAN ENAK

Waahh,..sudah lama tidak nge-blog, jadi kangen juga. Maklum ya, kerjaan numpuk, plus duit lagi beku - bekunya buat makan yang aneh - aneh atau makan yang enak - enak. Namun sesuai judul di atas, beberapa kali, saya kesempatan makan makanan enak. Penasaran apa aja? Banyaaakk..! Tapi yang akan saya bahas cuma 2 saja. Mengikuti capres pilihan saya, saya pilih 2 , salam 2 jari. Hehehehehe...

Sop Buntut Bakar
Belum lama, saya makan di suatu food court di Emporium. Sebetulnya, teman saya yang lapar berat, saya sih biasa aja, Tapi gitu liat menunya, ya ampun..Gimana bisa gemuk kalau kyk gni menunya?! Jadilah saya pesan juga. Saya pesan Sop Buntut Bakar Ibu Henny. Ya ampppuunn....enaknyaa..bikin ngiler saat itu juga. Biasanya, orang kalau bikin Buntut bakar, iga bakar, iga penyet, dll, bumbunya suka kurang merasuk. Tapi buntut Bakar ibu henny ini, bumbunya meresap abiisss.. Rasanya maknyus..! memang cenderung pedas ya. Kuah sopnya banyak lada, bikin pedas - pedas sedap, dan buntutnya, bumbu bakar nya juga enak abiss..pedas bikin ketagihan. Sekarang saya ngerti, kenapa zaman dulu kala, bangsa barat pada suka beli rempah - rempah di Indonesia. Bumbu yang kayak gini itu yg bikin enak masakan. Wadduuhh,,makan Sop buntut bakar ibu henny bikin ketagihan abiss..Patut dicoba. 1 porsi, tidak sampai 50rb. Pokoknya harus dicoba.


Nah, yang kedua, saya makan di Loobie Lobster. Restoran khusus menyajikan hidangan lobster, kepiting, udang, cumi. Lokasinya di Panglima Polim. Agak mahal, tapi harga mahalnya sebanding dengan porsi dan rasanya. Saya pesan Mix Platter dan Blackpepper Lobster Maine 250Gr. 


Mix Platter
Mix Platter, isinya lobster kukus, atau mungkin rebus, atau mungkin bakar, dan Calamari ( bahasa kerennya cumi goreng tepung ). Calamarinya, jujur bikin ketagihan. Garing, tidak terlalu keras untuk tepungnya, dan cuminya tidak alot. Disajikan dengan sambal cocol chili sauce biasa, atau sambal matah. Top bangeettt... Saya mungkin tidak mengerti soal tekstur lobster, tapi bisa saya pastikan, lobsternya fresh. karena tidak amis sama sekali. Rasanya pas, dimakan pakai nasi juga tidak hambar. Apalagi begitu di cocol pakai sambal matah, uenaknyaaa..


Blackpepper Lobster
Di loobie, ada 3 jenis lobster, yaitu lobster laut import, lobster laut lokal, dan lobster air tawar. Yang saya pesan, semuanya lobster laut, tapi bukan import. Ukurannya juga lumayan gede. Makan sendiri, bisa - bisa kolesterol, darah tinggi bisa langsung naik. Lobester lada hitam ( Blackpepper Lobster ), saya akuin, enak banget. Sayang saja bumbu lada hitamnya kurang kental. Tapi pedesnya, sangat terasa, pengaruh dikasih cabe rawit juga sih, tidak murni pedas lada hitamnya. Bumbunya juga meresap abis ke dalam daging lobsternya. Bikin semua yang makan ketagihan banget. Makan ber-empat, hanya dengan 2 menu aja, abis hampir 400rb. Agak mahal sih, tapi kalau lihat porsinya, gak rugi - rugi banget bukan?

Tuesday, 29 April 2014

DIRITNA - Syrian, Jordanian, Lebanon and Meditteranian Food

 Saya dan beberapa teman satu angkatan SMP, sepertinya punya hobi dan passion yang sama. Salah satunya, cobain makanan aneh - aneh. Dan inilah hasilnya. Sabtu kemarin, kami makan di Diritna Restoran karena tidak disengaja. Awalnya, kami ke Kemang untuk makan di Food Fest. Tapi karena saya tidak sreg dengan makanannya, jadilah kami jalan, dan lihat - lihat resto yang lain. Dari seberang, saya lihat tulisan  arab warna hijau. Saya bilang, " itu restoran apa? arab cuisine gitu? "
Teman saya langsung jawab, " itu restoran makanan mediterania,mau cobain? " Jadilah kami bertiga masuk ke restoran tersebut. Restorannya sepi, tapi temanya memang sudah serasa di daerah Timur Tengah. Tapi yang makan, kebanyakan bule dan asia. Bukan orang arab. Walau, pemiliknya, saya yakin orang timur tengah juga. 

Pita Bread
Kami pesan : Pita Bread, Hummus Tahineh, Mix Barbeque, Galayet Bandora with Meat. Masakan Timur Tengah, biasanya indentik dengan kambing, sapi, domba. Jarang ada ayam. Walau di restoran ini, mereka punya menu ayam. Banyak hal lucu sepanjang kami  makan di Diritna Restoran ini. Saat pesan Pita Bread, asumsi saya adalah, rotinya kecil. Dan kami pesan, seorang dapat jatah 2 roti. Begitu Pita Bread tiba di meja kami, ukuran luar biasa besar. Diameternya sekitar 18 - 20 Cm. Kebayangkan gedenya kayaknya gimana? Saya belum pernah, makan roti sampai mau nangis. Saking besar, dan bikin kenyang. Saya rasa, tiap orang cukup beli satu Pita Bread saja.

Kami pesan yang namanya Hummus Tahineh. Ini semacam cocolan, untuk segala jenis masakan kebab dan roti. Terbuat dari kacang yang dihaluskan, dan dikasih minyak zaitun. tapi rasanya, asem, yah, sedikit kecut. Jujur aja, Hummus Tahineh ini bukan favorit saya, kalau saya disuruh beli lagi makanan Timur Tengah di Diritna Restoran.
Hummus Tahineh
 Untungnya, menu yang kami pilih, selain Pita Bread dan Hummus Tahineh ini, semuanya enak. Seperti Mix Barbeque. Isinya, kentang goreng, Daging domba, kebab sapi, dan ayam. Semuanya dipanggang / dibakar. Rasanya, agak standard, cuma asin - asin doank. Tapi daging ayamnya cukup lembut, bumbunya juga cukup meresap. Kebab Sapinya, juga enak. Semacam daging sapi giling, yang dicampur bawang bombang cincang dan peterselli, dibentuk menjadi semacam sosis. Rasanya enak. Asin bawang bombay, dan daging sapi yang cukup lembut, pas banget. Teksturnya juga mudah dikunyah. Yang agak disayangkan, justru adalah daging dombanya. Bumbunya enak, tapi dagingnya agak alot. Sehingga, dikunyah pun, susah sekali dan bikin gigi sakit. Kata teman saya, " gigi gue serasa mau copot kunyah di daging domba". Hahahahaha..

Mix Barbeque
Menu terakhir, kami pesan Galayet Bandora with Meat. Di Timur Tengah, kalau kita bilang Meat ( daging ), biasanya dikasih kambing/domba. Dan menu di Diritna ini, masakan yang dibilang ada Meat, pasti pakai daging domba. Galayet Bandora ini, dimasak dengan banyak tomat. Tomat dipotong dadu kecil - kecil, ditumis dengan cabai hijau, bawang putih , kentang yang dipotong dadu kecil - kecil, dan daging domba yang diiris / dipotong kecil - kecil. Rasanya, enak. Segar, karena tomat, dan wangi daging domba serta bawang. Rasanya paling enak dibanding menu yang lain. Namun berhubung, makan pakai roti yang super besar, rasanya mau nangis makannya. Sampai kami akhirnya menyimpulkan, kami memang tidak cocok masakan Timur Tengah. 

Galayet Bandora with Meat
Hal yang paling bikin absurd, justru adalah begitu bill keluar, harganya fantastis. Makan dan minum, total IDR 487.000. Astaga..!!! Shock lha saya dan teman - teman saya. Secara, makan masakan eropa ( masakan yunani di Yamas ), harganya masih cukup reasonable dan acceptable. Apa boleh buat, kami pun bayar, dan setelah itu kabur, dan tidak mau makan lagi di Diritna. hehehehe...

Tuesday, 15 April 2014

SERBA FOOD at Paragon Hayam Wuruk

Tumis Kol
Saya rasa restoran serba food ini sudah banyak dikenal orang, walau jumlah pengunjung terbilang sedikit disaat weekend. Tapi sepi bukan berarti mahal dan masakannya tidak enak. Justru, masakannya enak banget. Gak boong. Mesti dicoba sendiri. Penasaran? Saya bahas satu - satu.
Menu yang saya coba pertama, adalah tumis kol / tumis kubis. Entah kubis dan kol itu sama atau gak, yang pasti namanya tumis sayur, rasanya standard. Cuma asin dan sedikit berminyak. Tapi sayurnya cukup segar koq. Bukan sayur yang sudah layu.


Pangsit Siram
Menu kedua, saya cobain yang namanya pangsit siram. Hahahaa..pangsitnya puas banget. Secara ukuran pangsitnya besar dan padat. Isinya padat dan gak pelit. Beneran daging cincang halus dicampur udang. Jadi lebih wangi, mengundang selera makan. Liat fotonya saya udah mulai ngiler dan lapar lagi. Kulit pangsitnya juga lembut. Disiram kuah asam manis pedas. Makin pas rasanya. Saya jujur, belum pernah cobain pangsit rebus dan disiram saus pedas manis, yang rasanya enak seperti ini.



Mongolian Beef
Menu Ketiga, menurut saya termasuk menu andalan Serba Food Restaurant. Namanya Mongolia Beef. Saya kurang tahu, apakah memang daging sapi mongolia asli, atau daging sapi lokal kualitas terbaik, tapi beneran deh. Daging sapinya lembut, empuk, dan mudah dikunyah, sama sekali tidak keras. Hadduuhh...enaknyaa.. Belum lagi bumbu yang dipakai untuk masakan Mongolia beef ini, rasanya mirip lada hitam, tapi bukan lada hitam. Tapi ada sedikit pedas - pedas lada, dan legit. Rasanya menurut saya spektakuler banget. Wajib dicoba. Menurut saya, pasti menyesal kalau tidak dicoba. Seriusan enak banget.

Menu keempat, saya cobain jamur goreng telur asin. Jamur yang dipakai adalah jamur enoki. Jamur yang bentuknya panjang - panjang kayak tali sepatu. Jamur digoreng dengan tepung yang dicampur telur asin. Sehingga rasa asinnya murni dari telur asin. Rasa yang dihasilkan, memang tidak segurih kalau pakai garam dan tepung saja, namun jauh lebih mudah dinikmati dengan rasa asin telur. Tepungnya digoreng kering, tapi tidak sampai keras dan terlalu garing. Pas di lidah dan kalau dimakan pakai nasi, pas banget asinnya. Menu ini, menurut saya, cocok buat anak yang tidak susah makan. Jamur garing, dan asin, pasti setiap anak suka menu ini.

Jamur goreng telur asin
Menu cemilan, juga tersedia. Saya cobain yang namanya Panada. Ada yang tahu panada? Yup, roti goreng khas manado yang diisi ikan cakalang dan rasanya pedas, serta paling enak kalau dimakan pada saat masih hangat, alias baru selesai digoreng. Hmmmmm... menggiurkan! Namun, panada ala Serba Food, lain daripada yang lain. Dibuat mirip burger. Ikan cakalangnya dibuat seperti selai, tapi tidak amis. Dikasih mayonais, dan taburan juhi yang halus. Rasanya beda daripada yang lain, tapi tetap nikmat di lidah. Langsung meleleh rasanya. Rotinya juga bertekstur lembut, isi ikan cakalangnya juga nikmat, cukup inovatif. Patut dicoba. Sayang aja, saya gak keburu cobain menu - menu dessertnya. Tapi tak mengapa, karena biarpun tanpa dessert, saya tetap berhasil bikin orang lain ngiler liat makanan yang saya makan. Hehehe :)

Panada bread