Friday, 30 September 2016

SINGAPORE NEVER FAILS special edition : We sing, eat and happy!

sebetulnya, saya dan sahabat saya ke singapore untuk mengikuti konser musik. Bukan nonton konser, tapi kami ini performers. Paduan Suara yang kami ikuti ini terbentuk dari banyak interdominasi gereja dan paduan suara tempat kami bernaung ini beruntung memiliki seorang mantan music director dari Singapore. Berhubung mantan music director kami akan mengadakan konser di Singapore, maka beliaupun mengundang kami untuk datang ke singapore dan join konser disana. Yaaa.. intinya sih konser, tapi namanya ke Singapore, tetep aja harus melipir buat kuliner dan belanja. hahahaha.. konser mungkin bisa jadi alasan ke-2.

lau pa sat from above ( courtesy : wikipedia )
Hari itu, hari pertama kami latihan sebelum konser. Paginya seperti biasa, saya dan sahabat saya bangun agak siang. Dari semalam saya sudah bilang ke sahabat saya, pokoknya besok mau makan di Lau Pa Sat / Telok Ayer Market. Apa itu Lau Pa Sat? Lau Pa Sat adalah salah satu hawker center di Singapore. Lokasinya di area business singapore, ibaratnya macam Sudirman / Kuningan-nya Singapore. Di dalam Lau Pa Sat ada macam - macam makanan. Gedungnya sendiri juga termasuk gedung bersejarah dan berbentuk oktagonal. Saya sampai cari dari google cara pergi kesana dan makanan apa aja yang terkenal disana. Berhubung saat saya ke Singapore itu menjelang F1, jalanan di sekitar Lau Pa Sat banyak di tutup dan dialihkan. Sehingga jalanan macet dan tersendat. Tapi tenang, macetnya tidak separah di Jakarta. Kami dapat double dekker bus dan duduk di atas. untung saja, karena kami tidak tahu jalan, ketika dari jauh saya sudah lihat jamnya Lau Pa Sat, saya langsung pencet bel dan turun dari bus. Kami hanya tinggal menyebrang dan Lau Pa Sat sudah di depan mata. Sampai di dalam, ada banyak stand makanan. 


Fish Soup
Dengan modal informasi dari Google, akhirnya kami putuskan makan Fish Soup. Huwaaa.. porsinya mantap dan enak banget! Memang sih, rasa kuahnya cenderung hambar, tapi menurut saya, rasanya jadi fresh dan lebih segar di lidah. Dan menurut saya, kalau kuahnya dibuat lebih kuat rasanya, justru rasa ikannya bisa hilang. Enaknya lagi, kuahnya tidak tercium bau amis. Semuanya pas! Dasar orang indonesia, makan selalu perlu gorengan, akhirnya saya beli kuotie juga 1 porsi. Kami makan berdua. Kuotienya, menurut saya agak kurang, malah cenderung kebanyakan kucai / daun bawang. Sehingga dagingnya tidak terlalu berasa. Namun yang saya suka, kuotie gorengnya cenderung less oil, malah kering dan tidak berminyak. Berbeda dengan kuotie yang pernah saya makan.Lau Pa Sat Bener - bener pantas menyandang titel pusat kuliner otentik singapore. 

Dari Lau Pa Sat, kami beranjak ke Bugis. Di bugis, saya cari tas punggung dan oleh - oleh lagi. Kami malah berakhir beli anting dan mochi. Setelah itu, kami mengantri untuk beli Share Tea di Bugis. Kami beli 2, karena kalau di singapore, biasanya beli 2 lebih murah. Kami pesan green tea with Vanila Cream dan Green tea with Sea Salt Cream. Kami beli beda rasa, supaya bisa saling cicip. Hari itu hujan deras, sehingga saya dan sahabat saya berpikir untuk langsung ke tempat latihan. Jadilah kami naik MRT ke Redhill Station. Tiba di tempat latihan, kami sempat banget foto - foto. Lalu kami pun minum Share Tea yang kami beli. 
Saya : Loe minum yang apa?
Sahabat : Gue minum yang sea salt.
Saya : Gue yang vanilla. Loe mau cobain? ( sambil sodorin gelas )
Sahabat : enak yang vanilla.
Saya : Enak yang sea salt menurut gue. Ya udah, itu buat loe aja, gue yang ini aja.
Teman Padus : iiihh,, selera loe mah aneh ya. Sea Salt kan asin?  dan loe bilang enak?
Saya : ( nyengir doank.. )

Latihan dimulai, dan kami latihan selama  2 hari. Selama 2 hari itu latihan selesai cukup malam.  Hahahaha.. Tiba di tempat menginap, kami langsung makan malam di dekat rumah. Saya bilangnya makan di Warteg Singapore. Itu lho, tempat makan di hawker yang jual macam - macam sayur dan masakan. Hadeeuuh... enak benar hidup ini. Saya makan nasi, daging babi dengan telor asin diatasnya dan tumis buncis. Ueeennaaakk... Now i can live again! Rasa makanan standard, tapi bener, makanan yang dimakan saat lapar, semuanya jadi enak! Apapun menunya, selalu enak di lidah dan perut! 

Rice & vegetable.

Thursday, 29 September 2016

SINGAPORE NEVER FAILS special edition : Mellben Seafood

Setiap kali saya ke Singapore, semua orang selalu bilang, " you should go and try the Chili Crab in Singapore ". Hmmm,... now i know why everybody recommended this menu to me. Chili Crab sepertinya merupakan icon makanan di Singapore. Salah satu yang terkenal di Singapore adalah Mellben Seafood. Based on Google, pendirinya bernama Melvin Soon. Restoran pertama dibuka di area Pasir Ris, selanjutnya mulai berkembang dan buka di Ang Mo Kio dan Toa Payao. Kalau ada yang belum pernah makan disini, saya akan share sedikit pengalaman makan saya di Mellben Seafood.

Jadi sepupu saya bilang," Loe kalau ke sini, harus makan Chili Crab. Loe suka kepiting gak? ". Saya pun jawab, kalau saya gak terlalu suka kepiting karena repot makannya. Sedangkan sahabat saya yang gak doyan duren itu, justru doyan banget kepiting, ampe bilang, "Justru itu seninya ccyyyiinn..makan kepiting emang harus pake repot, biar seru! ". Ooohh,, okay then..i'll go. Jadi hari itu, setelah menonton di AMK Hub, kami pun janjian dengan sepupu saya lagi untuk makan malam di Mellben Seafood Ang Mo Kio. Dia pun wanti - wanti bilang kita harus tag tempat duduk dulu, karena biasa antriannya panjang macam ular naga. Okay, berhubung saya dan sahabat saya ini pengacara ( Pengangguran banyak Acara, yang mana acara seminggu di Singapore cuma belanja dan makan, hahahaha ).. jadilah saya dan sahabat saya yang pergi dulu ke restoran tsb untuk antri. Tapi siapa sangka, memang saya lagi jodoh sama ini restoran. Antriannya gak panjang dan saya masih bisa duduk santai di taman dekat restoran  sampai sepupu saya datang. Begitu sepupu saya datang, kami pun langsung masuk ke restoran dan duduk memesan makanan. Di Mellben Seafood, ada pilihan kepitingnya. Kepiting normal dan besar. Yang normal size aja, menurut saya gede banget, apalagi yang big size? hahaha.. dan akhirnya, kami pun memesan Claypot Crab Beehoon, Salted Egg Crab dan Tumis Kangkung. Seperti apa rasanya? 2 kata, ENAK BANGET.

Claypot Crab Beehoon
Claypot Crab Beehoon ini termasuk menu andalan dan favorit di Mellben Seafood. Masakannya berkuah. Jadinya rasanya itu meresap sampai ke daging - daging kepiting di dalamnya. Sahabat saya, juga suka dengan menu ini. Jangan bayangkan beehoon nya itu macam bihun di Indonesia. Beehoon disini, bentuknya lebih mirip bakmi, bulet, panjang dan agak tebal. Terbuat dari beras. Kuahnya itu dari santan, tapi rasanya lebih ke arah susu. Manis, gurih sedikit berminyak. Saya pikir kepiting di Mellben Seafood ini dari Indonesia. Ehh,, tanya punya tanya, ternyata kepitingnya dari Sri Lanka. Wow.. rasanya beda. Dagingnya tebal dan banyak. Makan satu kepiting juga udah kenyang banget. Tekstur daging dan ukuran kepitingnya Top Markotop!

Salted Egg Crab
Menu kedua, Salted Egg Crab. Kepiting dimasak dengan telor asin. Rasanya gimana? this is my favourite! saya sampai harus minta maaf sama timbangan badan di rumah, karena berat badan saya pasti bertambah. Back to topic. Saya sih suka banget sama Salted Egg Crab. Kalau kata sahabat saya, rasa bumbunya kayak chiki. Hahahaha.. tapi seriusan enak banget ini bumbunya, ampe saya makan jilatin tempurung kepitingnya, buat makan bumbunya. Saya koret - koretin juga itu piring semua yang ada bumbunya. Ini lapar atau lapar, saya juga udah gak tahu. Namanya Salted Egg, rasanya pasti asin. Namun karena buat dimasak, salted eggnya diubah jadi macam saus gitu, dan rasanya jadi agak manis. Namun tidak merusak tekstur dan rasa salted egg yang asli. Walau kekurangannya, karena ini masakan kering, jadinya bumbunya tidak meresap sampai ke dalam daging, hanya menempel di tempurung kepitingnya.

Kangkung Belacan
Menu ketiga, tumis kangkung pakai terasi. Hahaha.. believe it or not. Buat saya, namanya makan seafood, paling enak pakai tumis kangkung. Mau pakai terasi atau gak, pokoknya, buat saya kangkung itu tumisan sayur favorit dan udah paling pas nemenin seafood. Tumisan kangkung di Mellben Seafood, kurang lebih rasanya mirip sama semua tumisan standard. Nothing special, beda harga aja. Kalau di jakarta pakai IDR, di Singapore pakai SGD. Kalau di luar negeri, makan kangkung trus kurs ke IDR, rasa - rasanya, saya bisa beli segerobak sayur isi kangkung. hahahaha..

Overall, menu kepiting ini, enaaaakkkk..! i should say, the Best Crab i've ever eat. Cuma begitu tagihan datang. Jreeennngg....! jangan di kurs ke rupiah saudara - saudara. Nanti kena serangan jantung. Yang pasti, abis liat bill, saya geleng - geleng kepala. 

So, Dear Cousin, pray for me to be success and hopefully my plan for next year can come true (or at least got a big amount salary like you get in Singapore). So next time, it will be my turn to treat you expensive food like what we eat in Mellben Seafood. Okay? 
With Love, your chubby & big eater sister.


Mellben Seafood AMK


After fighting with Crab

Tuesday, 27 September 2016

SINGAPORE NEVER FAILS special edition : Do something special

Seminggu di Singapore itu bisa bikin saya berubah jadi Singaporean. Dan lucunya gitu. Kita kalau di negara sendiri mungkin jorok, gak tertib. Tapi begitu di negara orang, mendadak tertib dan buang sampah pada tempatnya. Berhubung tiap kali saya ke Singapore tidak pernah cuma 1 atau 2 hari, kali ini saya jalan - jalan dengan kegiatan yang agak berbeda sedikit. 

Durian ( King Fruit )
Salah satunya, makan durian di Hougang. Sepupu saya bilang, kalau dia hampir tiap hari makan durian disini, karena gak mau makan nasi di malam hari. Sampai - sampai si pedagang durian bilang jangan - jangan sepupu saya naksir dia. Ya kaleeee pak..! ckckckck.. saya tidak tau jenis durian yang dijual oleh si pedagang. Tapiiii... duriannya enak..! ahahahaha... beda dengan durian montong. Biasanya, kalau makan durian montong, saya cuma sanggup makan maksimal 2 potong durian. Sedangkan, saat saya makan durian di Hougang, entah berapa banyak potong durian yang saya makan malam itu. Termasuk sahabat saya, yang mengklaim diri " gak doyan durian ".. tapi ternyata makan banyak juga. Yang bikin saya kuat makan durian di Hougang, adalah karena ukuran potongan duriannya tidak sebombastis ukuran Durian Monthong. Bijinya besar - besar, dagingnya tidak terlalu gemuk dan tebal. Kalau saya gambarkan, rasa dan teksturnya macam kalau kita makan durian medan. Rasa duriannya pun tidak monoton. Jadi sama sekali tidak terasa bosan di lidah saat dimakan. Sedangkan sahabat saya berkomentar : " This is the first time ever in my life, i ate so many durians! " Hahaha... dia bahkan bilang duriannya macam tidak berbau, gak bikin eneg dan fine - fine aja makan durian. Bahkan pada saat pulang, dia bilang ke saya, " gue gak berasa kayak abis makan durian lho ". Good deh. 

Dear my best friend, if you read this blog ( and if God & money allows ), then on December 2017, kita fix makan duren lagi ya ccyyyiinnnn... ahahahahaha,...siapkan perutmu kawan!

Sehabis makan durian, kami pun bubar jalan. Tapi baru juga melangkah, kami melipir ke foodcourt dan beli Fried Wanton. Apa itu fried wanton? Fried wanton itu semacam pangsit goreng, tapi yang kami beli, ukuran pangsitnya mini - mini alias bite size. Dan isinya daging babi. Sooo yummy and oily. Tapi justru itu kan yang enak? yang berminyak dan garing. Hehehehe.. Kami pun berpisah di MRT. Sepupu saya kembali ke Punggol, saya dan sahabat saya balik ke Tanjong Katong. Sepanjang jalan, kami cek jadwal bioskop. Jadi pada saat kami makan durian, sahabat saya bilang, dia belum nonton film korea " Train To Busan". Dia penasaran, karena katanya menang banyak penghargaan dan filmnya bagus, walau temanya Zombie. Berhubung saya suka cablak kalau ngomong, spontan saya bilang, " ya udah. Besok aja kita nonton itu Train To Busan. Gue juga penasaran. ". Jadilah kami malam itu begitu tiba di penginapan mencari informasi tentang lokasi Bioskop dan harganya. Saya hanya tahu 2 besar bioskop di Singapore, yaitu Golden Village dan Cathay. Kami cek lokasi dan jam yang cocok. Berhubung kami malas bangun pagi, jadi kami cari yang waktu tayangnya siang menjelang sore, dan areanya dekat dengan sepupu saya kerja. Karena rencananya kami akan makan malam bareng. Pilihan jatuh di Cathay Cinema AMK Hub. Kami pilih yang show jam 13.40. 

Our Meals
Esok hari, kami bangun agak siang. Kami tidak beli sarapan di Hawker Center, malah bikin oatmeal dan makan yoghurt. Sehat bukan? Saya juga kagum dengan diri saya sendiri, sanggup gitu makan sehat hanya oatmeal buatan sahabat saya dan yoghurt sebagai penutup. Setelah mandi dan sarapan, kami pun berangkat ke AMK Hub. Kami tiba masih terlalu awal. Jadi kami beli tiket dulu, lalu cari makan siang.
Berhubung saya dan sahabat ini pencinta drama korea, jadi kami pun makan siang ala Kdrama. Kami makan sandwich SUBWAY. Bagi pecinta drama korea, rasa - rasanya pasti bosen liat si subway selalu muncul di setiap Kdrama. Tapi karena penasaran, saya tetap beli sandwich tsb. Sampai saya posting di IG " eat like a kdrama ". Sayangnya gak ada yang besar macam sandwich di Kdrama. Tapi cukup bikin kenyang, karena kami memang gak niat makan nasi. Karena nanti malam, kami akan makan cukup banyak. Kami pesan sandwich isi Ham dengan Oregano parmesan bread. Oh my God..this is my kind of happiness! Rasa sandwichnya saya banget! suka banget dengan sandwich Subway.

Ham & Cheese Subway Sandwich
Setelah kenyang, kami muter - muter mall dulu, karena waktu putar film masih cukup lama. Sekitar jam 13.15, kami balik lagi ke bioskop dan ambil pesanan popcorn kami, setelah itu masuk ke teater. kalau di Jakarta, namanya Studio Teater bisa diliat pintu masuknya bahkan dari tempat kita beli tiket. Namun di singapore, khususnya di AMK Hub, studio teater ada di ruangan berbeda malah beda lantai dengan lobby atau tempat jual tiket dan popcorn. Jadi saya harus melewati koridor kecil. Sebelum masuk koridor kecil ini, ada meja loket tempat si penjaga karcis cek dan robek tiket. Setelah itu, kita dipersilahkan masuk ke area studio teater. Di ujung koridor, ada eskalator. Kami pun naik eskalator dan begitu di atas, sudah keliatan pintu - pintu studionya. Di AMK Hub ada 5 atau 6 Studio. Lucunya, di depan pintu studio teater, tidak ada satupun petugas. Jadi kita masuk sendiri ke Studio yang tertera di karcis. Biasanya, kalau di Jakarta kan ada orang yang berdiri di depan pintu studio. Lebih parah lagi pas kami masuk, studio masih sepi! Asli sepi gak ada orang satupun di dalam studio. Lampu gak nyala, dan gak ada tayangan iklan atau trailer apapun di layar. Bener - bener kosong melompong dan gelap.
Saya : Booo.. kita salah studio gak sih?
Sahabat : Gak lah, kan udah masuk sesuai nomor studio di karcis. Udah lha, duduk aja.
Saya : Gak mau ah. Gila aja, cuma kita berdua doank, tunggu orang lain masuk dulu deh. Atau tunggu ampe jam tayang aja. ( saya pun keluar studio ).
sampai di luar, saya dan sahabat saya malah cekikikan, karena bingung dengan keadaan bioskop yang sepi abiiss.. mungkin karena jam nontonnya bukan di peak hour ya.
Saya : Loe kebayang gak sih?  itu kalau di Running Man atau Anime, udah pke 3 titik [ . . . ], plus gagak lewat ~ kooaakk..kooaakk.. ~ Garing abis lho.
Sahabat saya ampe tertawa ngakak denger komentar saya. Tak lama, seorang kakek masuk. Saya pandang-pandangan dengan sahabat saya. Kami sama - sama berpikir, ini opa - opa kuat gak ya nonton film Zombie? yang biasa thriller dan penuh kaget - kagetan? tapi bukan urusan saya juga sih. Akhirnya kami pun masuk dan duduk sesuai nomor kursi kami.
Movie Ticket

Persis jam 13.40, film dimulai. Tapi masih trailer dan iklan - iklan. Sekitar 10 menit kemudian, diputarlah film Train To Busan. Siapa aja artisnya? silakan cek sendiri di Google. Saya gak mau kasih Spoiler isi cerita dan endingnya, Harus ditonton sendiri baru seru. Yang pasti, film ini pantas dan layak dapat penghargaan di Canes Movie Festival. If i have to make a summary, only one sentence : "The zombie movie only korea can do! "

Selesai nonton, kami keliling mall lagi, sambil killing time menunggu waktu janjian dengan sepupu saya. Kami ketemu toko oleh - oleh yang sedang sale/diskon. Jadi rupanya, berhubung ini toko mau pindah lokasi, mereka terpaksa harus habiskan stock barang di toko mereka, dengan cara kasih diskon. Jadilah saya borong pringles, ferrero roche, cadbury, kitkat, dll. Saking murah banget..! Gak sia - sia kami belanja. Abis belanja, kami pun keliling sebentar, dan langsung menuju tempat janjian dengan sepupu saya.

To be continue..

Monday, 26 September 2016

SINGAPORE NEVER FAILS special edition : Going There, always fun!

 saya pertama kali ke singapore itu tahun 2005 akhir. Ceritanya ikut acara semacam conference gereja di Malaysia, lalu saya menghabiskan waktu di singapore, sekalian merayakan tahun baru. Kali ke dua saya ke Singapore, itu dalam rangka widyawisata sekolah, tahun 2006 atau 2007. Agak - Agak lupa karena sudah terlalu lama. Hahahhaa... dan setelahnya, saya kembali ke Singapore dalam rangka konser, di tahun 2010. Setelah itu, dalamn rangka nonton konser King's College Choir, saya nekad beli pegi lagi di tahun 2011. dan tahun 2014, karena dalam rangka konser, saya pergi lagi ke Singapore. Dan tahun ini, 2016, saya dapat kesempatan lagi, bersama - sama dengan teman paduan suara, diundang konser lagi di Singapore. jadi bisa dibilang, selama 11 tahun, saya sudah 6x ke Singapore.

Ada yang tanya, bosan gak ke Singapore? saya sih jawab, saya gak pernah bosan! Jujur! Karena walaupun Singapore itu besarnya hanya seujung kuku ukuran kota Jakarta, selalu banyak hal baru yang bisa dilakukan di Singapore. That's why i said : Singapore Never Fails. Singapore merupakan salah satu negara yang gak bosan - bosan saya kunjungi. Selalu ada tempat baru, hiburan baru, atraksi baru yang menarik perhatian wisatawan. Walaupun 3 tahun berturut, katanya, Singapore mengalahkan Jepang menjadi negara termahal di dunia. Ya bayangin aja, tahun 2005, exchange rate SGD vs IDR, cuma 6500, sekarang udah nyaris 10.000. Entah ekonomi singapore yang kuat, atau ekonomi indonesia yang payah, saya juga tidak paham. 

Jadi, hari itu, pas lagi pada idul adha, saya dan teman baik di paduan suara memulai perjalanan kami ke Singapore. Biasanya, saya suka naik JetStars. Eeiitss,.. bukan promosi nih, tapi seriusan, kalau low cost carrier, saya masih lebih percaya sama JetStars, dibanding airlines low cost carrier lainnya. Namun berhubung saat dicek, harganya mahal, saya beralih ke airlines "The Proud of Indonesia". Hahaha.. karena saya dapat tiket murah saat Travel Fair. Persiapan tahun ini pun, saya rasakan termasuk santai dan gak buru - buru. Saya beli tiket bulan April, pesen akomodasi baru bulan Juli. Tapi menjelang hari-H, koq semua jadi buru - buru dan serba ribet. Tau - tau di kantor rame, trus packing rasanya ribet banget. Tapi tetep sih, namanya mau liburan, hati selalu senang. Bahkan sampai saya menulis blog, saya masih susah move on dan sulit menerima kenyataan kalau saya sudah balik ke Jakarta :(

Enaknya, karena naik " The Proud of Indonesia", saya dapat makan! yeah.. anda bisa bilang saya norak. Tapi beneran, saya suka norak macam anak kampung kalau naik airlines mahal. Buat saya, namanya makanan adalah highlight bagi saya yang doyan makan. Pilihannya Nasi Goreng atau Pasta. Berdasarkan pengalaman, naik kendaraan apapun di Indonesia, kalau menunya nasi goreng, jarang ada yang enak. Semua standardnya sama. Jadi, saya pilihlah pasta. Daaaann,.. Ya ampuuunn.. enak bangettt..! sampai makan sampai bersih tandas, tanpa sisa. Temen baik saya sampai komentar : Loe laper apa laper? ahahhaha.. sayang saya gak foto makanan di pesawat. But trust me, it is totally delicious! Menunya ada Beef Pasta, Bread and butter, Banana cake with milk. Minumnya bisa pilih mau teh atau jus, dll. Serasa orang kaya naik "The Proud of Indonesia". Hahahhahahaa...

Sepanjang jalan, cuaca kurang bagus, jadi pesawat rasanya getar dan goyang - goyang terus. Tapi semua berjalan baik, dan saya tiba di singapore dengan selamat. Seperti biasa, saya kagum ngeliatin Changi Airport. Iiiihh,, gak ada apa - apanya compare to Soetta. Begitu antri imigrasi, lalu ambil bagasi, saya dan sahabat saya menunggu kakak sepupu saya jemput di Airport. Pasti pada nanya, " ngapain sih pake dijemput? di singapore kan gampang transportasinya, masa mesti pake jemput? "
yes! compare to Jakarta, Singapore itu transportasinya wahid! Hahahaha.. kenapa saya minta jemput? karena tempat menginap saya bukan di hotel. Tapi di rumah orang local, yang mana, aksesnya gak cukup pakai MRT doank, tapi juga harus pake bis. Jadi, daripada saya jadi anak hilang di Singapore, mending saya minta sepupu saya jemput donk? 

Room Photo
Saya pun berangkat dari Changi menuju tempat menginap. Sepanjang jalan, kami heboh mengobrol. Dan tidak lama, saya tiba di MRT Paya Lebar. Saya menginap di Area Tanjong Katong ( East Coast ). Jadi dari MRT Paya Lebar, saya masih harus naik bus sekitar 4 Stop. Well, kalau cuma angkat koper naik/turun bus atau MRT sih gak capek dan gak ribet. Tapi beneran ribet ketika saya tiba di tempat menginap. Kenapa? karena tempat saya menginap gak ada lift! cuma ada tangga! Jadi kebayang gimana saya angkat itu koper ampe ke tempat menginap? Saya serasa berubah jadi si Po kungfu panda, yang ngos-ngosan naik tangga. Sampai di ujung tangga, harus pencet kode masuk. Setelah pintu terbuka... i found oasis! Beneran..! dekorasi tempat menginapnya bagus, rapi, unik, cantik, dst. The list is endless. Dan kabar baiknya, kamar saya ada di loteng. Artinya, saya harus naik tangga lagi. Capek sih, tapi begitu buka pintu kamar.. Oh My Gosh..! The room is just Sooooo pretty..! It's small, yet pretty, clean and neat. Sepupu saya ampe kaget juga liat kamarnya. Kamar mandi terpisah dari kamar. Tapi kamar mandinya bersih dan kinclong! ahhahaha... saya suka..! I love it!

Attic Room
Setelah check-in, duduk dan numpang WC, saya dan sahabat saya, pergi ke Punggol. Jangan pada nanya di Punggol ada apa. Kalau penasaran, beli tiket dan datangin sendiri tempatnya. Hehehe.. Kami ke Punggol karena mau mengantar pulang sepupu saya, walau at the end, kami malah makan di Water Way Point, Punggol. Waktu 2014, saya ke punggol bantuin sepupu saya, itu mall belum ada. Eehh,.. gak sampai 2 tahun, udah ada mall lagi. Jadilah, kami makan siang sekaligus makan malam disitu. Dari sana, kami ke apartement sepupu saya, dan ngobrol sambil sembunyi dan bisik - bisik. Hahahha.. takut ganggu housemate sepupu saya. Kami ngobrol panjang lebar sampai tidak terasa sudah jam 20.00. Tadinya mau langsung mau  balik. Tapi sepupu saya ajak jalan ke Hougang. Penasaran saya ngapain ke Hougang? Tunggu edisi selanjutnya..

Thursday, 7 April 2016

Trip To Bangkok : Episode 4 : Shopping & Eating are a MUST!

Kalau udah ke Bangkok, udah pasti harus belanja. Belanja apa? ya macem - macem. Yang pasti kudu belanja dan oleh - oleh buat keluarga, teman kantor, pacar, dll. Saya sih harus mengakui, bahwa jadi orang Indonesia itu repot kalau jalan - jalan. Kalau beli oleh - oleh, keluarga semua harus kebagian, atau  bisa berantem cuma karena tidak dapat oleh - oleh. Kalau beli oleh - oleh juga harus yang setipe, biar gak saling iri. Hadeuh,, rem to the pong, REMPONG! Akhirnya, saya juga cuma beli oleh - oleh untuk orang di rumah saja dan teman kantor, yang kebanyakan cemilan. Mungkin pada bertanya, beli oleh - oleh dimana yang murah?  saya sih gak mau beli murah, apalagi cuma beli gantungan kunci. Duile,, harga diri saya gak cuma seharga gantungan kunci! Saya paling sebel kalau orang jauh - jauh pergi ke luar negeri, pulang kasih oleh - oleh cuma gantungan kunci. Mending gak usah kasih oleh - oleh. Hahahaa...

Fried Fish Egg & Fried Squid egg
Sehabis pulang dari Ayutthaya, saya dan sepupu beli tiket kereta pulang ke Bangkok, dan minta ke stasiun terdekat dengan Jatujak Market. Akhirnya, kami beli tiket ke Bang Sue Junction 1 station. Duuhh,,itu stasiun seriusan sepi dan kecil. Sama seperti bagaimana kami pergi, kami pulang naik kereta kembali angin - anginan karena duduk persis di samping jendela. Muka ini benar - benar penuh debu! Rambut saya kusut, dan ya ampun penampilan saya sudah uwel - uwelan dan awut - awutan. begitu tiba, kami bingung, mau naik apa ke Jatujak Market. Ehh,.. ternyata tidak jauh dari stasiun ada MRT. Ya ampun,,serasa lihat surga dan artinya ada AC! Hahahaha... Kami pun langsung menuju stasiun MRT dan cari WC. Tapi, sebelum gerbang untuk tap kartu, ternyata tidak ada WC. Jadi bingung, koq di stasiun MRT tidak ada WC? Ternyata memang tidak ada WC. Akhirnya kami memutuskan untuk beli tiket dulu, baru cari WC. Kami pun bertanya, MRT terdekat untuk ke Jatujak ada dimana? Dijawab, 1 stasiun saja, namanya Kamphaen Phet. Setelah beli tiket, kami pun tanya WC ada dimana? trus si petugas panggil satpam disana, dan jadilah, kami seperti tamu VIP, diantar satpam ke WC karyawan. Oooo.. ternyata WC nya khusus pekerja dan petugas MRT. Kenapa kami dikasih untuk pakai WC karyawan? karena wajah kami udah bener - bener kasian, sampai dikasih izin untuk pakai WC karyawan. Setelah puas cuci muka dan pakai WC, kami pikir tidak ditungguin oleh satpamnya, ternyata gitu keluar pintu WC, boooo.. si satpam masih tungguin kita keluar! Astaga.. maaf ya pak..jadi menunggu lama. Hihihihi... Setelah itu, kami turun dan menunggu MRT datang. Dasar turis, gak percayaan ma informasi petugas, kami pun nanya lagi sama penumpang di MRT, turun di stasiun mana kalau mau ke Jatujak Market? dijawab : Jatujak Park! Lhooo.. koq beda? saya langsung bilang sepupu saya : " tadi si petugas kayaknya bilang Kamphaen Phet lho.. "
sepupu : " Tapi orang - orang bilang di Jatujak Park "
Saya : " sekarang bukan masalahnya turun dimana, Ini kartu MRT kita beli untuk turun dimana? "
akhirnya kami turun di Jatujak Park, dan bener aja, begitu kami tap kartu MRT, langsung gak bisa keluar. Akhirnya kami balik lagi ke Kamphaen Phet, baru bisa keluar. Begitu keluar, banyak banget orang lalu lalang. 

Fried Skin Pork


Jatujak Market adalah pasar yang hanya buka di saat weekend. Areanya luas, banyak pertokoan dengan lebih dari 8000 toko ( http://www.bangkok.com/shopping-market/popular-markets.htm ). Disni segala macam juga dijual, mulai dari binatang, tumbuhan, hiasan dekorasi, pakaian dan makanan. Waahh.. kalau weekend, sudah pasti ramai luar biasa! Udah pasti bakal senggol - senggolan, adu body dan harus hati - hati menjaga tas dan barang berharga, karena banyak copet. Saya sendiri di Jatujak hanya lihat - lihat pakaian, kalau ada yg murah dan suka, ya langsung beli. Disini juga jual macam - macam makanan. Pokoknya lengkap! hahahaha.. Sampai pegal saya jalan - jalan keliling Jatujak, padahal baru jalan 2 - 3 Jam saja, pegalnya sudah tidak kepalang dan itupun belum mengelilingi separuh areanya! Hahaha.. di Jatujak, kami puas banget makan, termasuk sepupu saya dapat juga salad mangga yang dimakan dengan keruput kulit babi. Ini cemilan favorit saya, tapi gak sehat buat badan. Hahahahhaa.. kalau beli di uncle - uncle yang jual keliling, atau beli ma tukang rujak harganya cuma THB 20, kalau udah di supermarket, harganya paling murah THB 70. beda Jauh kan? Setelah pegal, saya dan sepupu kembali ke hotel sambil bawa bekal, yaitu Fried Egg Fish dan Fried Squid Egg. Jangan heran dengan kegilaan makan kami. Kalau kami bisa beda pendapat dalam hal apapun, urusan makan, kami selalu sehati. Dekat di hati, dekat di perut. ahahahahaha...

Siam Paragon
Besok paginya, kami pergi ke gereja. Itupun pake acara keliling area gereja, karena gak ada signage letak ruang kebaktiannya. Kami pun keliling, dan akhirnya ketemu ruang kebaktiannya, yang ternyata agak di pojok gedung, di lantai 2. Hadeehh.. capek deh! Selesai gereja, kami hunting oleh - oleh. Saya sendiri kurang tahu dimana orang - orang kalau beli oleh - oleh. Tapi saya dan sepupu saya akhirnya beli oleh - oleh di supermarket keceh di Siam Paragon. Supermarketnya mengingatkan saya akan Aeon Supermarket atau Supermarket mahal macam Kemchick atau Food Hall. Segala macam tumpah ruah disana, yang belanja juga expat, turis, dan warga asing. Tapi memang isinya lengkap! Bahkan kami sampai bingung mau beli oleh - oleh apa. Kami pun beli abon ebi yang agak pedas, lalu beli sambal ebi yang bisa dibuat nasi goreng. Duuhh,, Yummy bangettt..! pokoknya puas belanja oleh - oleh di Siam Paragon. Kalau mau beli manisan di Siam Paragon supermarket, cobain deh manisan lengkeng. Jauuhh lebih enak dibanding manisan yang pepaya, atau kiwi, atau jeruk, atau mangga. Paling enak menurut saya itu lengkeng. Lalu beli keripik kelapa. Waaahh,,, enak banget dan garing!

Our Lunch
Setelah beli oleh - oleh, kami pun pergi makan siang di Ban Khun Mae. Restorannya kecil, agak remang - remang, tapi adem dan unik. Harga makanannya pun gak mahal. Saya pesan Green Chicken Curry, Deep Fried Pork Ribs dan  Stir Fry Mix Vegetables, alias Capcay. Rasa masakannya? huwaaa.. Top! untuk ukuran restoran lokal dan kecil, namun memang pantas kalau restoran ini masuk rekomendasi di Trip Advisor. Rasa makanannya not bad, malah enak menurut saya. Sesuai dengan lidah saya. Menunya banyak variasi dan macamnya. Pelayanannya juga cukup ramah dan cepat. Green Curry nya juga enak, tidak terasa bau kari atau bau obat, daging ayamnya juga empuk. Deep Fried Pork Ribs nya juga enak. Kalau lihat review, banyak yang bilang kurang enak. Tapi pada saat saya pesan dan saya makan, ternyata itu komentar gak bener juga. Karena memang sih, dagingnya tidak terlalu empuk, tapi bumbunya cukup meresap dan terasa. Rasanya enak banget walau tekstur dagingnya kurang empuk. Namun buat saya itu udah termasuk enak. Kalau Capcaynya, ya udah lha yaa.. rasanya ya gtu. 

Habis makan, kami balik ke hotel, karena sepupu saya harus balik malam itu ke singapore dengan pesawat jam 22.55. Tapi sebelumnya, kami setuju jalan lagi ke Jatujak. Jadilah kami berpetualang lagi di Jatujak. Beli baju, makanan, dll. Puas banget jalan - jalan dan makan. Sampai gempor kaki saya jalan - jalan di Thailand. Hahaha.. 

Besok paginya, saya bangun pagi - pagi karena harus kejar pesawat jam 8.00 pagi. Saya bangun jam 4 pagi, jalan ke airport Suvarnabhumi jam 5.15 pagi. Untung saja saya bangun dan jalan lebih awal. Karena begitu tiba di airport, antrian panjang kayak ular naga sudah menanti di counter check-in. Padahal counter check-in yang buka cukup banyak. Hampir semua counter buka, tapi tetap saja antrian panjang terjadi. Untungnya saya sudah online check-in, jadi tinggal drop bagasi saja dan hanya mengantri sebentar, sekitar 15 menit. Imigrasi juga tidak terlalu ramai, tapi gate nya jaaaaaauuuhhh di ujung. Duuhh,.. saya jalan kaki aja ada kali abis waktu 15 menit sampai di gate. Tapi karena kiri kanan banyak duty free, ya saya belanja lagi supaya tidak perlu terlalu lama duduk menunggu. Saya sampai sarapan di Dairy Queen dan saya bersyukur udah sarapan. Karena makanan di pesawat yang saya tumpangi kurang enak! ahahahha.. Setelah makan, saya segera masuk ke gate. begitu masuk pesawat, ya ampun, saya duduk di samping bule yang kece abis tapi ternyata galak! Duuhh,,, takuuttt..

saya sudah senang - senang nih duduk dekat bule keceh. 
Pas ditanya pramugari : do you want omelet or prawn noodle? 
saya jawab : Omelet, please.
Pramugari : and how about you, sir?
si bule : Omelet, please.
lalu si pramugari pergi. Tidak lama dia datang, dan bilang, kalau omeletnya habis, dan tersisa prawn noodle. Saya sih gak masalah dan tetap makan prawn noodle tsb. Tapi si bule marah - marah dan terkesan fed up karena tidak dapat sarapan omelet. Hihihihi...Whatever deh ya. Memang saya harus akui, makanan di pesawat kurang enak. Akhirnya juga saya hanya makan udang, sedikit mie dan sayurnya. Jus dan roti saya habiskan. Yang pasti saya paling seneng kalau dapat pesawat dengan personal TV. hahaha,.. saya puas nonton Kmovie " The Throne ". Setelah 3 jam, akhirnya saya tiba di Indonesia, Tanah Air Beta. Berakhirlah sudah perjalanan dan petualangan saya di Thailand. Selanjutnya, kemana lagi ya? Nantikan setelah yang satu ini..! Byeee...
Jackfruit Pudding
 

Sunday, 3 April 2016

Trip To Bangkok : Episode 3 : Ayutthaya, The Old Capital of Thailand

Awalnya, saya itu gak kepikiran mau ke Ayutthaya. Tapi last minute, sekitar 1 bulan sebelum berangkat, gak tau kenapa, saya bilang sama sepupu saya, saya mau ke Ayutthaya. Berhubung dia juga belum pernah ke Ayutthaya, dan gak tahu di Ayuttahaya ada apaan, dia cari tahu cara pergi kesana. Saya sendiri juga akhirnya penasaran, ada apa di Ayutthaya. Semua teman, orang Indonesia pada nanya ke saya, ngapain ke Ayutthaya? Ada apa di Ayutthaya? Lihat apa di Ayutthaya? Saya cuma bisa jawab, ya jalan - jalan, lihat - lihat disana. Trus pada nanya, Ayutthaya itu apa? Busseeettt.. gak pernah belajar sejarah ternyata. Ya, Ayuttahaya adalah ibu kota lama Thailand sebelum pindah ke Bangkok. Banyak ahli yang mengatakan bahwa Ayutthaya adalah The Origin of Thai Culture, benar - benar asal muasal kebudayaan Thailand. Kalau mau lihat seperti apa kebudayaan asli di Thailand, Ayutthaya adalah tempat yang tepat. Di Sana benar - benar terlihat kebudayaan asli Thailand. Saya pun harus mengakui, tidak banyak orang Indonesia, maupun travel agent dari Indonesia yang memasukkan Ayutthaya kedalam daftar itinerary sebagai objek wisata. Karena letaknya cukup jauh. Naik kereta makan waktu 1,5jam sampai 2 jam perjalanan, Kalau dengan mobil bisa 4 - 6 jam perjalanan. Keburu habis waktu dijalan. Namun saya anjurkan, kalau memang mau menderita sedikit, gak rugi ke Ayutthaya.

Pagi itu, demi bisa hemat waktu, kami pun harus berangkat pagi - pagi dari hotel untuk ke Ayutthaya. Kami berangkat dari hotel sekitar jam 7 pagi, dan dapat kereta sekitar jam 8 kurang, walau akhirnya keretanya juga terlambat datang. Kalau berangkat dari Bangkok, kita bisa naik kereta dari Stasiun Hualamphong dan turun di stasiun Ayutthaya. Tentu pada bertanya - tanya, seperti apa kereta di Thailand. Kereta di Thailand, juga ternyata import dari Jepang. Bentuk sama seperti KRL Commuter Line, tapi di dalamnya mirip kereta yang dipakai utnuk rute luar kota, macam rute Gambir - Bandung, atau Bogor - Sukabumi. Cuma bedanya Non-AC. Ada sih yang AC, cuma udah penuh dan anehnya tiket kereta hanya bisa di booking 20 menit sebelum kereta tiba. Hahahaah.. primitif! di Jakarta aja udah bisa pesan online, bayar online, ini masih kudu antri. Dalam hal ini, saya masih lebih bangga sama Jakarta deh. Tuh kan jadi promosi dukung Ahok deh. Wkwkwkwkwkw... Lanjuuttt... Tempat duduk di dalamnya, hadap - hadapan. Jadi dengkul dan dengkul saling menempel satu sama lain. Karena tidak ada AC, jadi di dalam itu cuma ada kipas angin, dan jendelanya dibuka lebar - lebar, tidak ada satupun jendela yang ditutup. Jadi kebayang, sepanjang jalan, saya angin - anginan dekat jendela! Itu kalau abis keramas, saya gak perlu blow rambut buat keringin rambut. Duduk 10 menit dekat jendela kereta api aja udah langsung kering! Kereta ke Ayutthaya, ada 2 jenis. Ada kereta buat penduduk, biasa rute ini tujuannya ke Chiang Mai, tapi stop di beberapa stasiun, termasuk Ayutthaya. Keretanya udah pake lokomotif. Tapi ada juga, kereta khusus turis, harga lebih mahal, tapi lebih elit. Kenapa? karena khusus turis, keretanya tidak ramai, dan yang paling lucu, keretanya masih pakai lokomotif kuno, yang ada cerobong asapnya, dan keluar suara mendesis - desis di roda nya. Tuuutt... ttuuuttt...!! Sampai iri saya lihatnya! ahahahaha...

The Buddha
Begitu tiba, saya sama sepupu saya bengong, karena bingung tidak ada kendaraan umum. Di depan stasiun cuma ada bus tingkat lebih tepatnya, bus luxury untuk perjalanan jauh, dan tuktuk. Saya mungkin lebih tepat sebutnya oplet macam di film Si Doel. Nah, deal harga sewa tuktuk pun harus hati - hati. Saya ditawarin, THB 1000 per orang. Akhirnya si supir bilang THB 1000 buat 2 orang, buat 3 jam. Gila ajaaa.. i have no money,bro..! akhirnya tawar menawar, dapat deal THB 600 buat 2 orang, buat 3 jam. Nah, harganya fair enough lha. Dan kami pun pergi keliling Ayutthaya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah wihara. Yes, jangan lelah ya, kalau kerjaan saya sepanjang jalan - jalan cuma keluar masuk wihara, secara emang cuma itu doank objek wisatanya. Di wihara ini, dibilang ada patung Buddha yang besar. terpaksa saya masuk, dan lihat - lihat juga, walau kurang nafsu. Setelah lihat - lihat kurang lebih 15 menit, saya pun keluar dan menuju tempat berikutnya. 


Wat Yai Chaya Mongkol
Berikutnya saya mengunjungi situs kuil tua, bernama Wat Yai Chaya Mongkol. Kuil ini dibangun pada masa Raja U-Thong. Namun beberapa ahli sejarang mengatakan, stupa yang ada di kuil tersebut sebetulnya dibangun bahkan sebelum Ayuttahaya ditemukan. Awalnya kuil ini dipakai untuk menampung para biksu yang baru pulang belajar dari luar Thailand, namun seiring sejarah berjalan, kuil ini dijadikan penanda kemenangan Raja Naresuan atas serangan Burma. Yang saya suka dari kuil - kuil atau candi - candi di Ayutthaya adalah design arsitekturnya lebih dipengaruhi kebudayaan Hindu. Hampir semua situs bersejarahnya dibuat dari batu bata. Bahkan ada beberapa patung yang dibuat dari susunan batu bata, lalu dilapis semen lagi supaya halus dan kelihatan bentuk patungnya. Di Wat Yai Chaya Mongkol, anda bisa naik ke puncaknya. Di atas, anda akan melihat sumur yang cukup dalam dan banyak orang percaya, sumur tersebut bisa mendatangakan berkat. Sumur itu sendiri sudah kering, namun banyak orang yang melemparkan koin ke dalamnya, lalu berdoa. 


The Sleeping Buddha at Wat Yai Chaya Mongkol
Wat Mahathat
Dari Wat Yai Chaya Mongkol, saya beranjak ke situs yang merupakan highlight kota Ayutthaya. Ada yang tahu? Ya! Highlight di Ayutthaya adalah patung kepala budha di bawah pohon, orang local menyebutnya Wat Mahathat. Kompleks kuilnya cukup besar dan luas. Memang satu kota Ayutthaya itu sepertinya merupakan tempat tinggal raja, dan pusat pemujaan seluruh keluarga kerajaan. Saya harus akui, sebagian besar turis yang datang adalah turis barat dan Jepang, Tidak ada turis indonesia maupun cina yang datang ke sini. Saya sendiri tidak bosan melihat situs sejarah di Ayutthaya. Lebih terkesan misterius dan mistis dibanding kuil - kuil di Bangkok. Mungkin karena kota Ayutthaya dulunya adalah pusat kebudayaan agama Buddha, dan banyak biksu dan pengikut agama Buddha hidup dan tinggal disini sampai serangan dari Burma yang membakar habis kota Ayutthaya sehingga penduduknya terpaksa pergi dan meninggalkan kota Ayutthaya. Dari segi arsitektur pun, saya lebih suka kuil dan candi di Ayutthaya. 

Ayutthaya Historical Park
Selanjutnya, kami pergi mengarah ke Ayutthaya Historical Park yang diakui dan dimasukkan dalam list UNESCO World Heritage. Dalam arti, kota Ayutthaya sendiri diakui sebagai pusat arkeologi, sejarah dan asal muasal kebudayaan asli Thailand. Kalau kita lihat bangunan peninggalan zaman dulu, saya sering bilang, orang zaman dulu lebih kreatif dan hebat dibanding arsitek zaman sekarang. Contoh aja Borobudur. Candi tanpa semen, bangunan yang merupakan batu yang ditumpuk dan diukir sedemikian rupa menjadi untaian kisah sejarah. Gilaaa.. kebayang gak gimana sulitnya bangun itu candi? dan susun ulang candi yang udah runtuh? Sama seperti Ayutthaya, kota penuh kuil dan candi, saya sendiri bingung, gimana mereka bias bangun candi sebegitu megah dan agung! 

The Grand Palace
Dari Ayutthaya Historical Park, kami beranjak ke Grand Palace Ayutthaya. Kami tidak masuk ke dalam, namun hanya foto - foto di luar area saja. Karena jujur sudah capek dan kepanasan, juga duit udah tipis, dan waktu sewa kendaraan sudah hampir habis. Jadi kami terpaksa cepat - cepat foto lalu kembali ke stasiun. Kami pun minta di drop ke restoran yang tidak jauh dari stasiun untuk makan siang, Sehingga setelah makan siang, kami bisa pergi sendiri ke stasiun tanpa perlu naik tuktuk lagi. Tidak banyak yang bisa di foto, karena sebetulnya memang situs sejarah yang ada,sudah menjadi puing - puing. Jadi kita pun hanya bisa berandai dan mengira-ngira seperti apa kota Ayutthaya zaman dulu sebelum terjadi serangan dari Burma.

My Lunch, Padthai

Saturday, 2 April 2016

Trip To Bangkok : Episode 2 : Vihara to Vihara

Yaaa..sesuai judulnya ya, wihara ke wihara. Bener - bener kota Bangkok itu isinya wihara. Dimana - mana pasti ada pusat pemujaan. Setelah tidur cuma 4 jam, kami bangun, mandi dan sarapan. Sarapan di hotel tempat saya menginap itu cukup mewah menurut saya. Ada Nasi, tumis sayur, sosis, telur, salad, sereal dan roti. Semuanya saya cobain, gak mau rugi. Saya menginap di daerah Silom. Nama hotelnya Heritage Hotel - Baan Silom. Setelah jalan - jalan, kami pun bersiap jalan ke tujuan pertama, yaitu Wat Arun.

Wat Arun
Ada yang belum tahu apa itu Wat Arun? Wat Arun adalah salah satu kuil terletak di barat sungai Chao Praya. Letaknya persis di tepi sungai. Paling mudah kalau ke Wat Arun itu naik perahu. Kalau hotel - hotel mahal di sekitar pinggiran sungai Chao Praya, seperti Peninsula, Shangri-La, Sheraton, Mandarin Oriental, mereka memiliki perahu sendiri dan design sendiri. Tamu yang menginap bisa memakai kapal kapan saja untuk pergi ke Wat Arun, yang penting info ke hotel mengenai jadwal pemakaian. Karena saya menginap di daerah silom, saya harus jalan kaki lumayan jauh. Padahal kalau mau naik Skytrain juga bisa. Saya cukup naik dari Surasak, turun di Saphan Taksin. Begitu turun, dibawah sudah Center Pier, atau pelabuhan Saphan Taksin. Kalau pas kita berpergian di hari kerja, bukan saat long weekend, anda bisa naik perahu yang untuk masyarakat local, cuma THB 14 sekali jalan per orang. Berhubung kemarin saya pergi pas long weekend paskah, ya dapatnya yang khusus turis. Sekali jalan THB 40 per orang. Tapi kapalnya besar dan manusiawi, bukan kapal nelayan. Dari center pier, kita turun di N8 / Pier 8.  Begitu sampai, kami masih harus menyebrang dengan kapal, cukup bayar THB 3 per orang. Sampai begitu menapak di tanah, saya masih berasa goyang - goyang kayak di laut.

Wat Arun
Saking panas, begitu tiba, saya beli buah potong. Wadduuh.. beneran deh. Bangkok itu surga buah dan minuman. Buahnya bagus - bagus, manis - manis, trus jusnya pun asli, bukan dikasih pemanis dan dicampur. Setelah segar, sepupu saya mengingatkan persyaratan masuk kuil. Hampir semua kuil menerapkan peraturan yang sama. Harus pakai baju yang sopan, dalam arti pakai celana panjang, baju gak boleh lengan buntung. jadi kalau pakai kaos oblong, harus berlengan. Boleh lengan pendek, boleh lengan panjang. Cuma berhubung panas, siapa sih yang mau pakai lengan panjang? ahahhaha.. Dan seperti pada umumnya, tiap pergi ke daerah atraksi turis, pasti ketemu orang indonesia deh. Bukan saya benci ma orang indonesia ya, tapi males aja, kalau jalan - jalan ketemunya 4L ( Loe Lagi Loe Lagi ). Mayoritas turis di Bangkok, rata - rata orang Jepang, China dan Eropa. Jadi dimana - mana saya cuma denger bahasa mandarin dan jepang. 

Setelah tiba di Wat Arun, saya harus mengakui pendapat sepupu saya, bahwa kuil paling cantik dan iconic itu adalah Wat Arun. Kenapa? karena kuil ini, tidak terlalu besar, dan designnya menarik, Dibuat dengan hiasan pecahan porselen, dan pecahan tersebut disusun membentuk bunga, daun, dll. Warnanya dominan kuning, biru dan hijau. Sayangnya pada saya berkunjung, Wat Arun sedang dalam perawatan, jadi tidak bisa naik dan melihat ke dalam kuil. Jadi saya cuma selfie dan foto - foto saja. Dari Wat Arun, kami menyebrang sungai lagi menuju Wat Pho.

The Reclining Budha
Ada apa di Wat Pho? Wat Pho adalah salah satu kuil tertua di Bangkok, namun paling terkenal karena  The Biggest Reclining Budha. Areanya juga luas, walau tidak seluas area Grand Palace. selama 4 hari disana, saya jadi bertanya - tanya sendiri. Kenapa semua patung Budha di Bangkok, kalau gak lagi tiduran, ya duduk. Saya sampai berpikir apa senimannya kurang ide? atau memang ada unsur agama dan kepercayaan sehingga sepertinya semua seniman bikin patung Budha, kalau gak tiduran ya duduk. Hahahaha... mungkin kalau ada teman yang ahli, boleh bantu menjelaskan. Namun memang patung budha tidur di Wat Pho ini besar dan panjang! Beneran! sepanjang jalan dalam ruangan kuilnya, itu beneran panjang! 

Dari Wat Pho, kami naik bus ke market dekat Grand Palace, niatnya mau makan siang. Tapi ternyata, marketnya lagi tutup separuh, karena lagi renovasi. Jadi lah kami makan di restoran kecil di dalam market, satu - satunya restoran paling adem dan bersih di area market tsb. Saya makan Stir Fry Pork with garlic, dan sepupu saya makan kwetiaw goreng seafood. Rasanya? yaaa..enak, lumayan, bisa dimakan. Habis makan, barulah kami masuk ke Grand Palace. Ya amppuuunn... isinyaaa,,, orang semuaaa..! Gilaaa.. rame pake banget! Saya sampai malas ngebayangin jalan di tempat rame begitu. Masalah muncul, karena satpam disana reseh! Dari satpam sampe aunty - aunty nya juga reseh. Saya ceritanya pakai baju lengan buntung. Di Wat Arun dan Wat Pho, selama pakai pasmina, dan tertutup lengannya, boleh masuk, bahkan dengan celana panjang 3/4 ( dibawah lutut, setengah betis ), Di Grand Palace, saya kudu sewa baju, walau gratis tapi tetep deposit. Harga depositnya untuk atasan THB 200, bawahan THB 200. Jadilah saya deposit THB 500. Deposit dikembalikan setelah baju yang kita pinjam dikembalikan. 
Our Lunch


Di Grand Palace, highlight nya adalah patung budha dari Giok. Tapi,, patungnya kecil di puncak. Keren sih, secara kiri kanan bawah, itu semacam kotak - kotak dilapis emas dan permata. Banyak umat budha berdoa disana. Dan di dalam area patung budha ini, sama sekali tidak boleh foto. Begitu foto, si petugas akan mendatangi anda, dan minta fotonya dihapus. Parahnya anda bener - bener bakal dipelototin sama petugasnya. Jadi si petugas akan liat ada hapus foto dari hape atau kamera. Gak bisa kabur deh. Area Grand Palace ini pun besar, dan sepertinya gabung dengan tempat tinggal raja sekarang. Namun tentu saja, istana raja yang sekarang sudah modern. Bangunannya perpaduan eropa dan thailand. Indah..! seandainya saya punya rumah kayak gitu..saya pastilah adiknya Gu Jun Pyo atau Tao Ming Tse..wkwkwkwkwkw...

Grand Palace
Dari Grand Palace kami menuju Kao San Road. Salah satu jalan atau tempat paling happening di Bangkok. Isinya tempat pijat, tattoo, bar, restoran dan hostel. Semua tumpah ruah disini. dari Grand palace, bisa naik tuktuk, Bayangin aja, dari si supir tuktuk minta bayaran THB100 per org, akhirnya jadi THB 60 buat 2 org. Bener - Bener deh. Dari Kao San Road, kami rencana mau pulang. Tapi pada saat naik taxi, si supir taxi ini cemberut karena daerah ke arah tempat kami menginap itu macetnya parah abis. Akhirnya si supir taxi menyarankan kami naik kapal lalu turun di Central Pier atau Saphan Taksin. Waaahh..ide cemerlang! Walau saya akhirnya kena cipratan air sungai Chao Praya karena duduk di dekat pinggir perahu.

Tiba di hotel, kami langsung meluruskan kaki. Pegal kaki kami, kawan. Setelah puas duduk, kami naik tuktuk lagi ke Phat Phong Night Market, sekitar 1km dr tempat kami menginap. Phat Phong night Market ini mengingatkan saya akan Mangga besar. Pasar malam, ada jualan baju, tas, celana, dll, namun di kiri kanannya banyak pub, club malam, dan tempat - tempat agak mesum. Belanja disini, juga harus jago nawar. Saya dan sepupu niat mau beli baju lengan buntung buat dipakai ke ayutthaya. Harga awal THB 600, Setelah tawar menawar alot, akhirnya 1 kaos harganya jadi THB 100! Ngeri saudara - saudara! ini sama parah kayak  belanja di china. hahahaha..Beli celana juga sama. Dari harga THB 600, turun jadi THB 150. Astaganaga..! Top markotop dah sepupu saya! Tapi ternyata memang pasaran harga celana itu THB 150 - 200. Kenapa? karena tidak jauh kami jalan, ada yang jual celana dengan harga THB 150an. Satu pesan saya, kalau yang punya toko adalah Lady Boy, mohon jangan tawar menawar, atau dia bakal ngambek dan bener - bener ngambek sampai cuekin anda dan tidak mau melayani! Trust Me, saya sudah mengalaminya!


Modern Palace