Sunday, 28 October 2018

Edisi 2nd Curcol Setahun di Negeri Kangguru

SPOILER ALERT : ini juga bakal panjang bacanya.

Ini mungkin Posting saya terakhir tahun ini. Hahahaha.. kebetulan inspirasi untuk tulis blog datang tiba - tiba. Sungguh, inspirasi itu datang tanpa mengenal waktu dan tempat. Hahahaha.
Tahu - tahu, abis kelar mandi, di kepala langsung muncul ide buat menulis.

Okay. Lanjuuuttt... tareekkk mang..
Circular Quay

Selama di Ausie, sebagai imigran, penting gabung sama komunitas. Saya sendiri bergereja di tempat yang banyak bule nya, walau isinya orang tua semua. Bikin miris sih. Tapi saya memilih di gereja bule supaya bisa improve bahasa inggris dan males ketemunya orang indo melulu. Ibarat 4L, Loe Lagi Loe Lagi. Beruntung, teman - teman komunitas padus di Jakarta juga selalu supportive. Saat saya stress, isi Whatsapp group selalu jadi hiburan tersendiri buat saya. Mulai dari yang penting ampe gak penting. Mulai dari serius sampai ngebanyol. At this time, if i look back from the day i was born until now, i can't imagine myself doing it all alone. It's just, God's help comes at the right place and at the right time.
** start playing : Looking back on the things i've done.. i was trying to be someone. I played my part.. ** 
Umur memang gak bohong ya. Your song your age. Hahahaha..

Selama di Ausie ini, hampir semua orang nanya, " udah nemu cowok belum loe disana? "
Iiiihh,,,, kali,, nemu cowok kayak nemu recehan jatuh di jalan. Hahahaha.. 
Mungkin ini adalah pertanyaan horor bagi kaum jomblo. Stepnya biasa seperti ini ( correct me if i am wrong ) : 
1. Kalau belum punya pacar, pertanyaan keluarga besar : " udah punya pacar belom? Koq belom sih? cari donk.. " ya kaleee om tante.. gimana kalau ente juga bantu cariin dah.
2. Kalau udah punya pacar, pertanyaan keluarga besar : " kapan married? buruan lah married.. mumpung masih muda. " Mohon maaf om tante.. siapa yang gak mau married? tapi menurut saya, married itu bukan suatu keharusan. Karena banyak mereka yang masih single di usia tua, hidup mereka happy aja. Yang utama, hidup itu harus bahagia. Ngapain juga maksa buru - buru married, tapi gak happy - happy amat?
3. Kalau udah married, pertanyaan keluarga besar : " Kapan punya anak? Ngapain tunggu - tunggu. ". 
Om tante, harap diketahui, bikin anak itu mudah, besarinnya itu sulit. Zaman ente besarin anak, kondisi negara masih oke. Sekarang udah gak keceh. Mohon jangan jadi sobat kepho ku.
4. Kalau udah punya anak, pertanyaan keluarga besar : " Koq cuma satu? bikin lah satu lagi.. kan kasihan kalau cuma sendirian, gak ada temen, gak ada saudara. " 
Ya kaleee saudara - saudara. Emang sini buka pabrikan buat bikin anak? please.... common sense.

Namun kalau dipikir - pikir, jadi cewek, anak semata wayang, pergi sendirian ngebolang di Ausie tanpa sanak saudara, buat saya sendiri, sampai detik ini, saya masih terkagum - kagum sama diri sendiri. Sampai kadang kalau mengobrol sama teman baik yang sama - sama masih ngejomblo, dia selalu ketawa sambil bilang, " ini apa karena kita terlalu independent makannya kita susah banget dapat pacar? apa karena kita kelihatan high level banget, cowok jadi minder gtu? "
Ya manalah adinda tahu..
Ditambah, kebanyakan teman kerja yang orang indonesia, rata - rata lebih muda dari saya, dan sudah menikah. Ya ampuuunn.. langsung berasa tuiirr, cyyiiinn... antara sedih dan senang.
Senang karena menjadi jomblo means freedom. Being single simply means everyday is an independence day. Saya bebas mau kemana aja, ngapain aja, semua terserah saya. Gak ada yang atur - atur, gak ada yang cemburu. Pokoknya, i can do whatever i want to do. Sedihnya,, kalau lagi jalan - jalan lihat pemandangan sekitar Sydney dan suburb,, apalagi pas musim semi dan gugur, koq kayaknya isinya pasangan semua? mulai dari sesama jenis sampai beda jenis. Jadi sediihh,..
Belum lagi lihat postingan group WHV yang bikin ngakak sekaligus miris maksimal: SOLUSI MENGHADAPI MUSIM DINGIN. Ada gtu yang komen : yang peling penting itu, di musim dingin itu harus punya pacar. Biar bsia bikin hangat.. Eeeaaaa... saya pun mulai menyandarkan kepala ke tembok sambil nangis.. ahahahahha..
Mohon maaf ya, jadi sesi curcol dah. Mari lanjutkaaann...

Setelah lewat dari 6 bulan, saya pun mulai panik karena masa visa saya sudah mau habis. Saya jujur tidak memilih jalur seperti kaum WHV lainnya, yang ambil 2nd year, dengan kerja di Northern Territory di bidang farm / hospitality. Saya gak sanggup lah hidup jadi buruh di ausie. Bener - bener kudu setrong. Kalau dipikir kerja buruh di ausie kayak kerja buruh di Indonesia sih, salah besar. Buruh indonesia kebanyakan komplen dan demo mulu. Disini, cuma KERJA, KERJA, dan KERJA. Waktu panik ini, semua teman - teman bilang, " banyak doa lah.. biar dikasih hidayah. "
Honestly, saya bahkan udah lelah baca renungan dan berdoa. Jadinya, saya cuma bisa pasrah. ** play the background hymn song : i...surrender all..** Sungguh, saya adalah sobat yang selalu pasrah terhadap apapun. Hahahahha. Selama masa panik ini, saya kebetulan dekat sama satu teman gereja. Suatu waktu dia ajak keluar lunch dan kami pun ngobrol panjang lebar.
Bule : " have you decide what you'll do after this? "
Me : " not yet. "
Bule : " Why? "
Me : " Don't know. "
Bule : " Okay, i'll make it simple. What do you want? what do you really want? "
Me : ( dieeemm.. ) lalu bilang, " honestly, i don't know what i want or what i really want. I just know, that my decision to go to Australia, is the best decision i've ever made. "
Bule : " well.. that's good. "
Me : ( Dieeemm.. dalam hati, to be honest, sometimes i want ALL THE MONEY IN THE WORLD) Setelah pikir ulang, akhirnya saya bilang , " i think, i might not know what i want, or what i really want. But i am sure about what i don't want to do. At the moment, i don't want to go back and stay for good in Indonesia. "
Setelah acara makan siang itu, saya pulang. Dan asli lelah banget lah. Selama 3 bulan terakhir ini, saya galau. Mulai dari pengen kuliah di Taiwan.. trus mulai hitung - hitung penghasilan yang mana sampai detik ini, masih belum balik modal. hahahaha.

Evening view from my balcony
Teman saya, Ms.AW, saat itu sudah pindah ke Alice Spring. Saya pun mengobrol dengan Ms. JA, dan opsinya pun sama saja. Kita berdua bener - bener galauers. Lalu saya kembali inget - inget obrolan dengan teman saat persiapan IELTS. Ini cowok, emang jauh lebih muda dari saya. Tapi dia wow banget. Bayangin aja, diumur yang kurleb 5 thn lebih muda, udah jadi young enteurpreneur dan sering diudang jadi pembicara. Dia cerita, dulu waktu masih SD, dia udah suka jual - jualin sticker - sticker yang lagi nge-hits. Trus gitu SMP, dia pengen beli playstation, tapi papa mama gak kasih. Akhirnya, dia iseng juala kaos sablon. Hasilnya dipakai buat beli playstation. Begitu SMA, dia udah bisa punya konveksi kecil - kecilan. Bahkan setelah lulus SMA, dia bisa masuk SGU dan bayar uang kuliah sendiri dari hasil kaos sablon itu. Dia cerita sempat pertukaran pelajar ke Jerman selama 1 tahun. Gitu jelang lulus, dia ditawarin magang di salah satu perusahaan telekomunikasi besar di Jakarta. Sekarang jadi WebDesigner. Sedangkan saya? Apalah saya? 
Lulus S1 di bidang komunikasi, kerja di travel agent jadi ticketing. Walau saya pernah kerja di 2 travel agent besar di Jakarta. Prestige siihh... tapi tetep gak bikin kelihatan keceh. Hahahaha.
Sekarangpun, kadang bule - bule muda di gereja, yang karir bagus, kerja kantoran, karir jelas mungkin aggap saya juga rendah. Sekali ada satu anggota gereja bilang, " you know, you should choose to work base on your skill. Like me, i'm major in architecture, i am working as a architect consultant. And she.. She studied child care / teaching, and become kindergaten teacher. Or like him, study medicine, and will work as a doctor. "
Trust me my friend. Saya juga kalo ada duitnya juga maunya begitu. Idealnya begitu. Tapi kan gak semua selalu berjalan sesuai keinginan kita. Kadang harus kita sesuaikan. Gak mungin juga berdoa minta A, ngotot sama Tuhan harus kasih A. Ya kaliiii...

Tapi mungkin bener ada kata  : When you really want something, the whole universe will help you to get it ( Please my friend, always feel free to correct me ). Saat itu, saya macam kayak anak hilang. Panik, gak tau ini mau gimana. Mau ambil jurusan apa, mau kuliah apa, duitnya gimana? cukup atau tidak? Saya sampai ngobrol ma teman di Amrik, dia cuma bilang, " Ti.. usahain lah stay di Ausie. Loe udah jauh - jauh, capek - capek sampai Ausie, masa balik? Pasti bisa deh. Percaya gue. "
Oooo,, how much i love and miss her. Saya sudah kayak macam pasrah, namun entah kenapa, segala sesuatunya tiba - tiba jadi cepat banget bergerak. Semua jadi jelas banget. Roommate saya yang orang vietnam, malah tiap hari semangatin saya, " You can... you can continue your school here. Let's count your wages. Cook at home. Find another job. You can do it. Please stay in Sydney longer. ". Saya pun memberanikan diri sama boss untuk minta jam kerja lebih banyak, dan dia pun setuju. Tapi bahasan itu nanti kalau udah fix perpanjang. Saya pun cerita sama orang tua saya soal plan saya, dan mereka setuju. 

Singkat cerita, Akhirnya, saya memutuskan perpanjang dengan apply kuliah. Inipun cari jurusan kuliah udah kayak menimbang calon suami. Belum pertimbangan mau pakai student agent yang mana? Karena banyak banget student agent di Sydney. Pertimbangan tetang student agent itu lebih ke arah macam,, kira - kira, gue bakal cocok sama mertua apa gak? hahahahhaa.. Total saya mengunjungi 5 student agency. ** Standing Ovation ** 
Inipun akhirnya, saya memantapkan hati buat pilih 1 student agent, karena rekomendasi teman. Sekarang, saya sedang proses semua, semoga semua berjalan lancar.
Kisah lanjutannya,,, hmmmm... mungkin saya lanjutkan tahun depan ya.

** That's for one minute. Thanks. Bye. **

Edisi 1st Curcol Setahun di Negeri Kangguru

SPOILER ALERT : ini bakal jadi entri tulisan terpanjang yang pernah saya tulis.



Tidak terasa sudah nyaris setahun saya berada di negeri kangguru aka Australia. Awal saya rencana pergi, bahkan orang tua aja gak setuju. Bahkan ada beberapa orang tua, tipikal kolot sih menurut saya, yang bilang, " Kamu itu anak perempuan, ngapain harus pergi jauh - jauh? ". Yeah,, tell me about it. Buat saya itu excuse. Karena saya simply orang yang semakin dibilang gak bisa, saya akan buktikan bahwa saya bisa. Walau abis itu, diam - diam jedotin kepala di tembok, sambil meratapi sifat over confidence saya yang suka muncul di saat tidak tepat. Hahahaha.

Saat akhirnya, orang tua setuju, yang mana saya sendiri juga kaget. Karena bayangin aja, sebagai anak cewek satu - satunya, yang bahkan selama di Jakarta gak boleh pulang malam, tapi semua itu selalu saya langgar karena saya gak suka diusik - usik soal jam malam. Walau tahu sih konsen orang tua. Ibu Kota itu lebih kejam daripada Ibu Tiri dan Jakarta itu kota paling gak kondusif dan gak aman buat perempuan. Tapi akhirnya pergi juga ke Australia. Hampir semua orang terheran - heran, dan hampir semuanya bertanya, " Loe yakin?? Loe disana ada kenalan?? Loe disana ada saudara?? Loe ntar disana gimana?? Loe gak sayang sama karir loe disini?? ". Dan saya pun jawab, Yes.. I AM SURE ABOUT IT. Disana gak ada saudara, mau gimana disana, saya pikirkan nanti aja. Berangkat aja belum, manatahu kondisi disana. Bicara karir, sejujurnya saya sih lelah kerja kantoran, apalagi di dalam company yang s*** banget. Yang ada saya memang stress dan butuh suasana baru. Pada saat saya memutuskan pergi, saya cuma browsing blog dari beberapa WHV seperjuangan dan akhirnya dapat gambaran, kehidupan seperti apa yang bakal saya jalani. Tentunya, anda tidak boleh melupakan Tuhan. Dari kecil mendapat pendidikan kristen yang cukup kuat dari orang tua, bener - bener bikin saya jadi orang yang kadang dengan buta ikut aja kemana kaki melangkah, yang penting berdoa, usaha, beriman. Which is, in this case, that kind of things is just so absurd for me although nothing wrong about it.

Bahkan sebelum pergi, ada percakapan sinis dan menyindir muncul. ( biasalah ya,, banyak sobat sok tahu yang entah penasaran atau kepho ) : 
X :  "Gue bakal kangen ma loe. Gue yakin ya, Loe kalo udah pacar di Jakarta, mungkin loe gak bakal pergi ke Ausie deh. "  
Pernyataan ini, cuma saya jawab diplomatis dan emang agak sedikit sok. Tapi asli lah.. buat saya, gak ada yang gak mungkin kalau mau usaha sedikit dan berkorban sedikit.
Me : " For me, i only believe in one thing. The one who loves me, will always support and respect my decision. That person might be disappointed at my decision. But that person also know, this is what i want. I believe, if i choose a stupid or suicide decision, that person will stop me. "
X : " okay.. Let say, sekarang loe dah punya pacar. emang loe yakin bisa kuat LDRan? LDRan itu sulit lho. "
Me : " Gue somehow merasa, loe yang gak bisa put your faith and trust to the person you love. Wajar loe bakal khawatir and ragu ma pasangan loe. Itu wajar banget. Tapi menurut gue, kalau cuma karena itu loe takut sama yang namanya LDR, it simply means insulting. Emang segitu murahnya perasaan manusia? "
Dan seketika itu juga, rasanya teman saya itu pindah ke kutub selatan.

Tanggal 3 Nov, dimulai lah perjalanan saya ke Sydney. I have no friend, no family. Ibaratnya amat sangat berpasrah diri. Pertama kali tiba, saya ketemu tante yang sepesawat dengan saya, yang dengan senang hati memberi tumpangan sampai ke tempat saya rencana tinggal di area city. Bersyukur juga sih, jadinya gak perlu keluar ongkos taxi. ( bener - bener receh banget mental gue ). Menapak tilas 1 tahun perjalanan di Australia ini, ibarat keajaiban buat saya. God never cease to amaze me with His works. Setelah tiba di ausie, hal pertama yang saya lakukan adalah cari kerja. Sejujurnya, kerjaan banyak, tapi semua mau yang punya experience. Tapi kan saya dulu kerja kantoran, manalah saya punya experience kerja di restoran jadi waiter, dll. Namun ternyata saat itu, tiba - tiba saya lihat postingan di FB, ada sebuah restoran Italia di kawasan The Rocks lagi cari casual staff dan gak perlu experience. Jadilah saya apply dan diterima. Hore..! Namun ya karena jatuhnya casual, saya cuma dipanggil kerja kadang, sebulan 2x, kadang seminggu 2x. Gak tentu jadwalnya. Tapi intinya saya dapat kerjaan sambil terus cari - cari kerjaan yang jamnya lebih teratur, sehingga pemasukan juga teratur. Gimanapun, modal yang saya bawa udah tiris bangettt.

Darling Harbour at night
Saya cukup yakin, di luar sana, pasti ada yang iri sama saya. Tapi yakinlah, hidup di negara orang lebih gak enak dibanding hidup di negeri sendiri, walau di negeri sendiri, saya sering mendapat perlakuan tidak adil, bahkan kadang gak dianggap oleh negara. Setelah 2 minggu di Sydney, saya mulai panik karena belum dapat kerjaan yang lebih tetap, dan nyaris menyerah. Namun entah gimana, saat itu saya lihat postingan FB, ada cewek yang nanya lowongan kerja di Sydney. Saya pun bercanda sama dia, dan akhirnya memutuskan kenalan dan ketemuan. Sebut aja, Ms. AW. Sejujurnya, saya udah di titik MENYERAH. I want to give up. Tapi ketemu dengan ini cewek, saya ibarat dapat suntikan energi dan lewat dia, saya ketemu dengan 1 cewek lagi, Ms. JA. Selama saya menjalani hidup 6 bulan pertama di Sydney, saya cukup yakin, kalau hari itu saya gak memutuskan untuk ketemuan dengan Ms.AW, saya mungkin udah lama pulang balik ke Indonesia. Tapi ketemu dengan 2 teman baru, membuat saya merasa lebih nyaman  dan happy. Kalau Ms.AW dan Ms. JA selalu memberi saya energi positif dan selalu support apapun dan selalu positif thinking, tapi saat saya besar kepala, Ms. JA adalah orang yang selalu siap membuat saya jadi lebih rendah hati. You don't know how thankful i am to meet the two of you in Sydney.

Well, everything is just wonderful. Ibarat kayak orang baru pdkt atau pacaran, semua juga indah. Cuma denger suara pacar, udah senyam senyum sendiri. Cuma bisa lihat wajah aja udah senang. Pegangan tangan aja udah dag dig dug. So innocent, right? It's also the same for me. Semua serba baru. Punya pengalaman baru, teman baru, dll. Lalu tidak lama, bulan Januari, saya dapat kerja di tempat Sushi. Asli lah, ini HELL banget buat saya. Gimana gak? saya kerja dikasih timer boooo... Si boss udah macam kayak ngoceh tiap hari. Akhirnya, hari ke-2 saya kerja, saya bilang ma dia : 
Me : " you know, i'm still lack in many things. I've told you, i have ZERO experience. That's why i am still slow in doing the sushi. "
Boss : " But, people with zero experience like you, can do it in maximum 2 minutes..! how come you make it in 3 minutes? What should i do to you? you tell me. "
Me : " All right. Then, you put me in your busiest store, let me get a proper training there. After that, you can put a test and decide, whether i'm worth it to be employed or not. if i'm not worth it, then you can simply KICK me OUT anytime you want. "
Boss : kaget, bengong, lalu ketawa. " Okay. Fine. Let's do it. You work at my other shop,a nd by saturday, i will test you. Okay? "
Me : " Okay..! "
Tapi akhirnya setelah 2 minggu, saya menyerah lah. Saya duluan yang minta resign. Secara saya gak suka banget dengan management nya dan asli, stress kerja dengan timer. Gileeee... serasa ada hansip di samping saya. Habis minta resign, saya malah diomelin ortu, karena belum punya kerjaan baru, tapi main resign aja. Hahahaha... tapi asli lah stress. Boleh tanya Ms. AW, gimana saya tiap pulang, rasanya pengen nangis. Sungguh lah, hidup di negeri orang, mesti rajin - rajin menghibur diri sendiri dan menyemangati diri sendiri.

Setelah keluar, gak lama saya lihat lagi tuh Gumtree. Eeehh.. ada restoran sushi butuh orang sebagai floor staff. Jadilah saya apply dan diterima. Sampai detik ini, saya masih kerja disana, karena memang suasanya enak dan temannya baik. Tapi gak berhenti sampai situ. Saya pun akhirnya dapat lagi kerjaan casual, dengan jam kerja gak tentu. Jadi Stocktaker, yaitu kerjaan itu stock lewat scan barcode. Ini juga salah satu kerjaan yang gampang, tapi menguras otak dan tenaga karena perlu energi extra untuk tetap fokus. Kalau gak fokus, saya jamin, pasti hitungan gak akurat. Awal kerja ini, rasanya puyeng, lama - lama biasa. Tapi asli lah, kalau sepanjang hari kerjanya cuma lihatin barcode, muak rasanya. Kerjaan monoton yang jujur saya eneg banget kadang - kadang. Tapi karena bayaran oke, saya pun rela. Rela banget saudara - saudara! Karena gara - gara ini kerjaan ini, saya bisa jalan - jalan ke snowy mountain. Hahahahaha.

Kadang juga, saya kerja sebagai staff dari Hospitality Agency. Ini juga kerjaan gak jelas jam kerjanya. Tapi saya suka banget. Karena lewat kerjaan ini, saya menambah pengetahuan tentang minuman keras. Dan bonusnya, kalau kerja pas konser musik dengan artis ternama, setidaknya bisa dengar jelas gaung suaranya. Jadi dapat live voice concert, walau gak ikutan nonton. Hahahaha.

==> Lanjut ke Episode selanjutnya.





Tuesday, 10 April 2018

iSYDNEY : Side Story

Hidup di Sydney selama hampir 6 bulan itu banyak kisah kocaknya. Salah satunya, adalah kalau ketemu turis asing, terutama turis Cina yang sama sekali gak bisa bahasa inggris. Maklum lah, saya warga Indonesia keturunan Cina. Jadi punya mata sipit dan perawakan persis orang Cina. Jadilah, tiap berpapasan dengan turis kesasar, mereka langsung berpikir saya bisa bahasa mandarin. Padahal ya, wajah doank Cina, tapi gak bisa bahasa mandarin. Entah berapa kali selama 6 bulan di Sydney, ada aja turis Cina kesasar nanya ke saya, mulai dari tanya jalan, tanya arah, gak bisa baca peta, sampai minta tolong buat foto!

Pernah sekali saya kerja casual di suatu restoran. Trus pegawainya macam ndeso..
Staff : " Where are you come from? "
Gue : " Indonesia. "
S : " But you don't look like Indonesian. You are Chinese "
G : ( . . . )
Lelah ya booo.. pernah sekali saya bilang, " I am Chinese Indonesian ", mereka malah balik nanya, " Why? How come? How come you are indonesian and chinese,, like two in one? "
Capek deh ya jelasinnya.. mending saya diem aja.

Pernah juga ketemu beberapa staff asli dari daratan Cina.
Staff 1 : " Where are you come from? "
Gue : " Indonesia. "
Staff 2 : " You are chinese. "
G : "  Yes.. sort of.. "
Staff 1 : " No.. she is not chinese. She doesn't look and sound like one "
G : ( . . . ), trus loe maunya apa? gue bilang indonesia, loe gak trima, bilang gue chinese. Gue iya bilang chinese, loe bilang gue bukan nasib. Pengen jambak rambut.
trus debat deh tuh staff...
Staff 2 : " I think she is like Yin Ni Hua Ren.. "
Staff 1 : " So, your ancestor from China, move to Indonesia.. i see.. "
G : ( . . .) Speechless.

Lain lagi waktu kerja di restoran italia, yang mayoritas semua staff nya orang italia. Paling aneh kalau pas perkenalan sama bartender disana.
Staff : " What's your name? "
Gue : " Asti. "
Staff : " Ooo... you know, we have a famous wine in Italy, named Asti. "
Gue : " oooo... " ( cuma bisa angguk2 tapi gak tau apa - apa ).
Staff : " you don't know? "
Gue : ( geleng2 kepala )
Staff : " You should try that wine "
Gue : ( ya kaleeee... masa asti minum asti )
Hal ini terjadi sampai 3x. Tiap ketemu bartender orang Italia, mereka langsung otomatis bilang, " Nice name. I will call you Asti, easy to remember "
Akhirnya, karena penasaran, saya browse juga lewat wikipedia. Ternyata beneran tuh bartender pada gak bohong. Di Italia, ada kota namanya Asti. Lalu nama Asti beneran nama wine terkenal di Italia. Lebih tepatnya Sparkling White Wine. Hahahahaha... saya yakin, waktu orang tua kasih saya nama ini, they have no idea about it.

Sudah deh, segini dulu ceritanya. Nanti saya akan share lagi kisah - kisah lucu lainnya di blog berikutnya.

Saturday, 18 November 2017

iSydney : 1st Chapter : Going around Sydney

Saya kebetulan datang dari keluarga kristen yang terbilang taat dan rajin beribadah. Walau saya harus mengkaui satu hal, saya mungkin tidak se-setia dan sepengabdi orang tua saya. Saya termasuk malas ke gereja. Tapi walau begitu, saya percaya satu hal. When there is no one you can depend on, you can only depend on God. Whether you like it or not, you need God. Yaa... bukan berarti pikiran saya sesempit mereka yang selalu fokus melulu sama agamanya. Bikin sakit kepala, demo pake berjilid - jilid. Ini yang saya suka dari Australia, no more demo berjilid. No more men with white daster ( if you know what i mean ). Hahahaha...

Back to square one, jadi hari minggu, saya harus ke gereja, Tapi ragu mau ke gereja mana. Akhirnya karena rekomendasi beberapa teman, saya ke gereja yang hanya beda 1 station sama tempat tinggal saya. Lokasinya di Chalmer St. Itupun alamatnya gak lengkap, dalam arti gak dikasih tau arah keluar nya exit pintu yang mana. Jadi saya cuma lihat alamatnya, cek google, ternyata turunnya di station Central. Saya pun hanya melangkah mengikuti kaki saja. Saya keluar ke arah south concourse. Tapi begitu tiba di jalan raya, saya bingung. Yang mana yang ke arah Chalmer St? Damn..! saya celingak celinguk gak jelas, akhirnya, saya hampiri seorang petugas pekerja kontraktor di dekat station. Diapun gak ngerti alamatnya. Tapi dia bilang, kalau saya ke kanan, itu nomornya makin kecil, jadi karena nomor rumahnya makin besar, saya mesti ke kiri. Jadilah saya ikutin arahan si petugas.Setelah jalan kurang lebih 2 - 3  menit, ketemu juga gerejanya! Akhirnyaaa.... untungnya tidak telat, jadi saya langsung masuk. Begitu masuk, seperti biasa ada penyambut tamu. Tentu karena gereja nya tidak besar, ketahuan banget lah kalau saya anggota baru. Begitu saya melangkah buat cari tempat duduk, penyambut tamunya bisik - bisik. Yaaa.. bisik - bisik sih, tapi lumayan gede karena saya bisa denger. mereka bilang, " kayaknya orang baru ya? ",, ya ampun kakak... kalau mau bisik - bisik, ikutin standard donk.. ahahahahhaa...

Kebaktian berjalan sekitar 1,5jam. Setelah kebaktian selesai, saya segera pulang ke apartement. Teman saya sudah sibuk whatsapp dan bilang ketemuan di Station jam 3 sore. Well, fine. Saya juga gak ada kerjaan lain sih. Jadilah saya pergi janjian sama teman saya. Kami pun jalan, makan dan have fun. Saya ditunjukkan semua turis spot di Sydney. But yeah.. since it is a VERY ICONIC tourist spot, buat saya bosan. Dan berhubung rupanya selama seminggu sebelum saya tiba di Sydney, cuaca sedang mendung dan sering hujan. Untungnya hari itu tidak hujan, tapi mendung. Jadi saya tidak bisa foto juga. Kami juga mengobrol lama sampai jam makan malam tiba. Teman saya termasuk heran dan takjub sama saya, karena di saat saya baru tiba di Sydney, saya sudah berani pergi sendiri, gak pake takut. Well, to be honest my friend, I AM SCARED. Tapi perkataan sepupu saya serta beberapa input dari backpacker, namanya jalan - jalan gak boleh takut. Dalam arti, saat anda mau jalan, dan tidak tahu jalan, tetap pasang muka pede. Kalau ternyata beneran tersesat, mending masuk ke convenience store macam sevel, circle K, etc dan tanya jalan ke mereka, daripada nanya orang - orang yang lewat, karena justru lebih bahaya, dan kita bisa aja dikerjain atau bahkan dirampok! dan especially, sepupu saya selalu bilang, malu banget kalau dia punya sepupu tapi gak independent. Mending tersesat, tapi loe dapat pengalaman, daripada loe gak berani sendiri. Well said, cousin!

Kami jalan - jalan ke Sydney Opera House, Sydney Bridge dan Darling Harbour. Pas ditanya, gimana kesannya? saya cuma bisa jawab, ' yaaaa.. biasa aja sih ". Guubbrraakk... saya yakin para pembaca akan bilang, saya gila! Well, i am! kalau membandingkan segi bangunan, arsitektur, dll, sebetulnya kita gak kalah. Bedanya, di Ausie bangunan tua dan kuno, apalagi yang ada nilai sejarah, dirawat bener - bener dan dijaga. Di indonesia, dibiarkan begitu saja. Coba tengok Jakarta, ada kota tua. Dirawat apa gak? baru benar - benar dirawat dan diperhatikan di zaman Jokowi-Ahok. Di Ausie, area macam kota tua, namanya The Rocks. Ini area asli hip banget, cafe tematik dan hotel banyak di area ini. Saya suka banget kawasan ini. Beda banget, karena semuanya bangunannya itu seperti bangunan Eropa. Sama - sama banyak bangunan tua ala eropa, tapi beda cara perawatannya. Padahal, kalau dirawat bener, saya cukup yakin, area kota tua di Jakarta, dari Stasiun Kota sampai Sunda Kelapa, bisa dibuat macam The Rocks.

Sydney at Night from apartment balcony
Bosan di kota, malamnya kami ke area Suburb, namanya Kingsford. Perjalanan dengan mobil cuma sekitar 20 menit dan lancar, bahkan jalanan bisa dibilang kosong! Ini bedanya. Jarak dari City ke Suburb ini, sebetulnya bahkan lebih jauh dibanding Kelapa Gading ke Gunung Sahari. Tapi karena jalanan gak macet, dan kalau macetpun maksimal tetap 30 menit perjalanan. Jadi gak terasa jauhnya. Coba di Jakarta? yep, jarak Kelapa Gading - Gunung Sahari, sekali jalan sama dengan bolak balik dari city ke suburb. Kingsford ini area orang indonesia..! Kenapa? karena makanan yang dijual disini, semuanya masakan Indonesia. Bayangin, nasi padang, ayam goreng, dll. Saya makan di restoran yang namanya KCR a.k.a Kingsford Chinese Restaurant. Wkwkwkwkw... saya harus bilang, makanan chinese food disini top markotop. Maap ya, saya gak banyak foto makanan. Nanti kalau balik lagi, saya akan foto dan review makanan ini di episode selanjutnya. Hihihihi.

Setelah makan, kamipun pulang ke rumah masing - masing. Saya di drop teman di depan apartment. Hahahaa.. tinggal saya bingung, besok saya mau ngapain ya selama seminggu? hahahaha..

Friday, 17 November 2017

iSydney : 1st Chapter : Day 1 and still counting up

Yeah, at least judulnya 1st chapter, ampe akhir november ini. I plan to make 12 chapter of my life here in Australia..hehehe.
Jadi saya terbang menggunakan pesawat kebanggaan Indonesia. Baru juga sampai di airport, rasanya berat mau pergi. Belum apa - apa udah kangen Indonesia ( yaelah, kayak gue diinget aja sama pemerintah ). Ini pertama kali saya menjejakkan kaki di T3 Ultimate, yang konon katanya mengalahkan Changi Airport. Tapi setelah menjejakkan kaki, biasa aja sih. Setelah masuk ke dalam - dalam sampai di ruang tunggu / boarding gate, tetep aja biasa banget. Apa mungkin efek saya udah terlalu sering ke Singapore sampai jadi brain wash gitu? Dunno.. 

Singkat cerita, saya masuk pesawat. Di pesawat, favorit saya duduk di aisle seat alias duduk di kursi yang dekat gang. Saya gak terlalu suka duduk window, apalagi duduk di tengah. Kebetulan, seat map nya 2-4-2. Sebelah saya seorang ibu - ibu, let's call her Tante. Dia gak keliatan ibu - ibu, malah lebih ke arah tipikal emak - emak gaul. Jadi saya panggil dia tante. Jujur saya gak tau namanya siapa. But she is such a very nice lady. Saya mengobrol cukup lama dengan dia sepanjang perjalanan. Saya jujur, tidak terlalu suka dengan pesawat overnight, karena asli, saya bahkan gak bisa tidur sepanjang perjalanan.  Pesawat berangkat tepat jam 22.30, mendarat di ausie keesokan hari pkl 9.30 pagi. Sepanjang perjalanan, saya bahkan tidak bisa tidur. Alhasil, pilek saya kambuh, dan saya sedikit pening begitu turun pesawat. Saya pikir, udara bakal panas, ternyata sedang hujan dan mendung. Alamaaaakkk,... begitu turun, buuussshh,.,.. angin berhembus, dan asli,, rasanya bahkan lebih dingin dari lembang ataupun puncak. Di Puncak / Lembang, saya bahkan gak pernah pake jaket / cardigan / sweater, tapi ini saya langsung pake jaket. Seriously..! Saya sampai berpikir, " mampus gue.. gimana kalau nanti winter? jadi apa gue? Segini aja gue udah kedinginan, ampe pake jaket, padahal cadangan lemak banyak di badan. Gak bener ini..! "

Saya pun bergegas ambil tas di compartment, dan tante yang duduk di sebelah saya bilang, " nanti kita barengan ya.. saya soalnya bingung ini, baru pertama kali ke Sydney. "
Dengan senyum meyakinkan, saya bilang iya dan janji akan temenin si tante. Asli deh, anda semua akan berpikir, " Loe gila apa? sama orang gak dikenal, loe malah baek - baek, mestinya curigaan. "
Well, ya gimana, saya juga gak sampai hati tinggalin nih tante, mana wajah dah melas gitu. Dan berhubung saya kerja di travel agent, tipikal tante - tante yang kayak gini, bikin sense of responsibility saya bekerja baik. Wkwkwkwkwkw... Kami pun jalan bareng sepanjang dari pesawat sampai di arrival hall. Again si tante panik pas udah deket imigrasi. Nah, ini penting nih. Ya hoki - hoki juga sih. Jadi sebelum pergi, banyak teman - teman Tour Leader mengingatkan saya, kalau ausie itu ketat imigrasinya, apalagi kalau ada petugas imigrasi yang orang india. Duile.. lengkap deh hidup loe saat masuk ke ausie kalau ketemu mereka. Begitu turun, biasa ada anjing pelacak, lalu kalau petugas imigrasinya orang india, kita bisa ditanyain macam - macam dan cukup menyebalkan sih. Tapi pada saat saya tiba, Heh?? mana anjing pelacaknya? ya mungkin memang bener sih, yang kyk gtu, faktor keberuntungan. Petugas imigrasi yang bertugas pun, semuanya bule, gak ada yang asia apalagi india. Si tante panik pas ditanya - tanya, tapi akhirnya lolos. Saya sengaja suruh dia masuk duluan, jadi kalau apa - apa, saya bisa bantu translate. 

Seperti petuah para pendahulu dan senior - senior WHV, the very 1st thing you have to do when you are arrive in Austrlia are : 
1. Beli Nomor Lokal  >> DONE! 
gitu nyampe saya langsung cari stall Optus / Vodafone / Telestra. kalau di ausie, Telestra itu macam telkomsel. Kalau ada WHV yang mau ke area pedalaman ausie, kerja di farm, paling bagus sih pakai telestra. Karena untuk Optus dan Vodafone, bahkan sinyal gak ada sama sekali di sana. Mau beli nomor lokalpun, si tante ikutan, karena dia stay 2 minggu. Kembali saya bantu dan temenin beliau beli nomor lokal.
2. Beli OPAL Card  >> DONE! 
pengalaman travelling, saya tanya sama si penjual optus, dimana saya bisa beli opal card, dia tunjuk convenience store di sebrang stall optus. OPAL Card itu apa ya? OPAL card itu kartu transportasi umum di seluruh Ausie. Kalau di jakarta macam emoney, flazz, etc. Kalau di Spore, kita sebutnya EZlink. Ini penting, karena OPAL Card berlaku untuk semua transportasi yang ada di Ausie. Kartu gak bsia diuangkan kembali, jadi kalau mau isi, harus bijaksana ya.
3. Buka Rekening Lokal di Ausie  >> DONE! 
saya tiba sabtu, jadi senin saya langsung urus ke bank lokal di ausie. FYI, kalau anda pegang NPWP Indonesia, per 6 bulan lalu, sepertinya hampir semua bank lokal ausie akan minta data NPWP kita. Jadi bawa NPWP anda ya kalau mau buka rekening di bank lokak ausie.
4. Bikin TFN ( Tax File Number ) >> DONE! 
sehabis buka rekening, saya pulang, lalu apply TFN. hanya dalam 1 minggu saya dikasih surat untuk nomor TFN saya.

Balik ke scene 1, saat saya sudah beli OPAL card. Si tante masih sibuk telepon temennya yang akan jemput. She plead with me to accompany her untill her friends come and pick-up her. Jadi saya bantu telepon temannya, juga bantu cariin temennya. Alhasil, kami menunggu hampir 1 jam, sampai temannya datang menjemput. Saya sudah siap berpisah dengan si tante, tapi tahu - tahu, tante baik hati ini bilang ke temennya untuk anterin saya dulu. Heh?? saya jadi gak enak hati..! Asli..! bukan aji mumpung ya.. tapi namanya di negara bule, buat orang indo, kudu hidup hemat..! dan asli saya gak enak hati dianterin sampai depan apartment saya tinggal. You know, life in Australia is tough, mate.. Huff.. Tapi dalam hati, saya pun tetap bersyukur karena dianterin.

My 1st meal in Sydney
Saya tiba di apartment, dibantu oleh roommate saya. Saya jujur gak kenal siapa - siapa di Sydney. Yaaaahh...actually ada sih kenal satu temen, this friend is a childhood friend and also sort of a far relatives or cousin. Complicated, right? Don't worry. But this friend is a very nice person. Tapi asli, saya gak mau repotin orang..! gimana gak, bawa badan sendiri udah repot, buat apa saya repotin orang lagi. Begitu tiba, saya kenalan dengan roommate saya. kami share 1 kamar bertiga termasuk saya. Roommate yang bantu saya check-in itu orang indonesia. Sedangkan roommate yang satu lagi, ternyata orang jepang. Yeay..! bisa minta gratisan ajarin bahasa jepang nih.. wkkwkwkww...


My 1st Dinner in Sydney
Begitu tiba, kebetulan roommate indo mau keluar apartment. Saya minta diajak keliling sekitaran apartment. Jadilah saya diajak keliling sebentar. Untungnya saya gampang inget jalan, jadi saya ngerti area sekitaran apartement. Kamipun berpisah di Westfield. Lalu saya jalan kaki, balik ke apartment. Karena batere hape sudah sekarat, saya terpaksa beli power bank di miniso, lalu makan di sekitaran apartment. Karena saya tinggal di City, daerahnya ramai dan very lively, jauh berbeda sama daerah suburb. Teman saya yang baik hati itu, lihat Instagram saya, ikutan shock! lalu comment di Instagram, " loe lagi di sydney?! " Jadilah kami mengobrol di Whatsapp dan saling bertukar kabar. Lalu memutuskan, besok, hari minggu harus ketemuan. Saya balik ke apartment, santai - santai, bongkar koper, lalu duduk - duduk mengobrol dengan owner apartment dan roommate saya. Malamnya saya lapar! saya pun makan di Ajisen Ramen, Booo...porsinya besar pake bangeett...mana habis? akhirnya karena lapar berat, saya habiskan hanya daging dan separuh porsi nasinya. I'm Full dan pengen tidur nyenyak malam ini. Sebelum tidur, saya sempat lihat - lihat lokasi untuk tempat saya ke gereja esok hari, pelajari map nya. saya pun tidur, dan semoga saya besok tidak tersesat. hihihi...

Saturday, 11 November 2017

iSYDNEY : 1st chapter : Preparation

so guys, here i am.
i think this is the 1st post in 2017.
kali ini, saya akan cerita ( bukan tentang makanan ya ) awal saya bisa terdampar ke negeri kangguru.

jadi ceritanya, sekitar pertengahan 2016, saya ngobrol dengan teman saya. Bisa dibilang, awalnya obrolan iseng, gak jelas. Teman saya bilang, dia mau rencana ke Australia dengan Working Holiday Visa. Saya yang dengar lantas bengong. What is Working Holiday Visa? setelah panjang lebar tinggi dijelaskan oleh teman saya, akhirnya, saya mencoba cari tahu lebih banyak tentang jenis visa ini. Setelah banyak info yang masuk, saya pun melakukan persiapan untuk apply visa. Persyaratan dokumen untuk visanya cukup mudah. 
Berikut Listnya : 
1. Paspor dengan masa berlaku minimal 6 bulan.
2. IELTS / TOEFL certificate
3. SPRI ( Surat Pendukung dari Pemerintah )
4. Form Visa 1208
5. CV / Resume
6. Medical Check-up
7. Bukti Keuangan min. AUD 5000
8. Copy KK dan akte lahir
9. pas foto berwarna 2 lembar ukuran paspor
10. Copy Ijazah Terakhir

Dokumennya memang tidak susah, tapi melengkapi segini banyak, menguras waktu, tenaga dan terutama duit. Untuk IELTS saja, perlu dana hampir 3jt, sedangkan untuk apply visanya juga butuh 5jt, untuk medical check-up perlu sekitar 1jt. Jadi kalau cuma modal bikin visa, perlu sekitar 9 - 10jt. 
Desember 2016, saya mulai berbenah. Awal Januari 2017, saya ikut kelas persiapan IELTS. Setelah tes, hasilnya bagus, lalu saya langsung daftar permintaan untuk SPRI melalui website Dirjen Imigrasi Indonesia. Sayangnya waktu itu, websitenya lagi ditutup, karena quota WHV ini, memang hanya dijatah untuk 1000 orang per tahun. Saya hampir putus asa, namun pada saat bulan februari, saya lihat, pendaftaran dibuka kembali. Jadilah saya isi form online, dan sambil menunggu panggilan interview dari Dirjen Imigrasi, pelan - pelan saya lengkapi dokumen - dokumen yang diperlukan. Untuk permintaan SPRI saja, kita butuh melengkapi dokumen juga. 
Berikut listnya : 
1. Form Identitas ( download dari link yang diberikan )
2. KTP
3. Akte Lahir
4. paspor dengan masa berlaku min.12 bulan
5. Ijazah S1, kalau belum lulus harus ada surat keterangan dari kampus dan Kartu Tanda Mahasiswa.
6. IELTS certificate ( min.Skor 4.5 ) atau TOEFL IBT ( min.Skore 32 )
7. Surat keterangan Bank dan min.saldo AUD 5000
8. Pas foto berwarna, latar putih, 1 lembar, ukuran 4 x 6 

untuk permintaan SPRI tidak ada biaya sama sekali. Tapi kebayang donk, gimana rempongnya kita persiapin semua dokumen pendukung? saya sendiri tipe yang amat sangat cuek. Jadi sedikit kelimpungan pada saat harus melengkapi banyak dokumen. Saya daftar permintaan SPRI dari Februari 2017, namun baru dapat panggilan dari Dirjen Imigrasi sekitar akhir bulan Agustus 2017. ini yang daftar Februari 2017 lho. Kebayang gak, gimana nasib mereka yang appky setelah Juli 2017? itupun yang saya dengar, ada yang daftar december 2016 belum dipanggil sama sekali. Glek..! saya langsung jiper. Mana sempat website Dirjen Imigrasi down karena pada saat dia buka ulang pendaftaran di bulan Juli 2017, itu macam seluruh indonesia akses ke website mereka, dan website mereka sampai jebol..! wuiihhh... sadisnya persaingan WHV disini. Setelah dapat panggilan dari Dirjen Imigrasi, saya menunggu lagi hampir 1 minggu sampai SPRI saya terima melalui email. Begitu masuk email, saya langsung buru2 submit dokumen ke VFS Australia. Setelah submit dokumen, pihak embassy akan memberikan kita semacam ID untuk medical check-up di rumah sakit rujukan yang ada kerja sama dengan Australia Embassy. Setelah check-up, saya hanya perlu 1 atau 2 hari menunggu visa keluar. daaannn,.. visanya APPROVED..! 

Saya bahagia sekali,,! tapi ternyata kebahagiannya hanya sebentar, karena saya tenggelam dalam tumpukan pekerjaan karena saya harus resign dari posisi seaya sebagai supervisor di suatu travel agent besar. Saya akuin, awalnya semangat mau pergi, tapi lambat laun, macam ada perasaan ragu. Tapi saya tepis dan karena dukungan orang tua, saya tetap berangkat tepat waktu. Hal paling ribet adalah pada saat packing..! Gimana cara, keperluan pribadi ( baju, obat, dll ), dipacking dalam 1 koper? alhasil, saya sering banget konsultasi sama teman - teman soal packing. Ini pun, saya akuin keluar duit banyak..! Mulai dari beli tiket, koper, dll...kalau saya hitung - hitung, ongkos yang dikeluarin sampai deh puluhan juta..! hahahaha... Singkat cerita saya mulai packing, dan alhasil, saya bawa 1 koper medium, 1 koper kecil dan tas punggung.. gileeehh,,rempongnya..! Kalau saya pikir secara logika, kayaknya semacam mimpi bisa pergi ke Australia,,kwkwkkwkw,, 
posting berikutnya, saya akan info seperti apa pengalaman saya selama di Sydney.

Monday, 12 December 2016

SINGAPORE NEVER FAILS : Goodbye Singapore, till we meet again!

That's true..! Saying goodbye, is always sad. It brings tear to my eyes. Especially, when i have to say goodbye to Chili Crab etc. The list is endless. Hahahahaa... Lebay yaa.. berhubung hari terakhir, teman saya sampai terkaget - kaget lihat menu saya. Saya sengaja tidak makan pagi, dengan alasan, saya mau menghabiskan duit SGD sampai ke receh - recehnya. Bayangin aja ya, udah tinggal recehan aja, saya masih bisa makan 2 menu! Yessss..! 2 Menu! Apa aja tuh?

Rice with chop chicken and papaya salad
begitu tiba, kami ke area basement. Di area tsb, ada Food court, ada supermarket, dll. Lengkap! Saya pun memutuskan makan di fast food thailand. Aaahh.. sebetulnya pengen Mango Sticky Rice, tapi behubung lapar berat, saya makan Rice with Chicken Chop and Papaya Salad. Huwaaaa..porsinya padahal gak gede, tapi lumayan kenyang. Saya sambil makan, sambil nonton, sambil ngobrol. Rasa chop chickennya macam ayam yang ada di nasi hainam, Namun agak lebih nikmat karena dicocol saus thailand gitu. Yang saya suka sih papaya saladnya. Karena dari pepaya yang masih agak mentah, dicampur butiran kacang. Enak..! Selesai makan, lalu selesai makan, kami melipir ke toko mainan untuk beli oleh - oleh.

Berhubung teman saya belum makan, jadilah kami beli SUBWAY Sandwich..! itu lho.. kalau penggemar drama korea, pasti akan bilang, si sandwich ini selalu muncul di setiap drama. Hahaha.. Jadilah kami makan lagi, plus pake meat ball dan alpukat. Rasanya? buat saya tooopp! Rotinya kami pake honey oat.. Makin top deh! 

Puas makan, kami janjian lagi dengan sepupu saya di airport, buat ambil oleh2 terakhir.. ahahahah... Fried Pork Skin! ahahaah.. beli khusus di restoran thailand di singapore, di area Nichols high way. Dan gak ketinggalan Moon Cake! hahaha... Setelah itu kami check-in dan say goodbye kepada sepupu saya. Begitu masuk, sahabat saya tanya, pernah beli wine? Eeehh,.. buseettt.. wine sih belum pernah.. tapiii.. kalau whisky macam baileys pernah.. Jadilah saya menjelma sebagai tourguide tunjukkin baileys yang mana yang enak. Hehehehe... 

Kami pun pulang ke jakarta dengan hati riang, hati berat, bawaan berat segembol. Dan selalu deh.. tiap balik dari luar negeri, selalu segala sesuatunya berjalan lambat di Jakarta. Mulai dari internet, antri imigrasi ampe antri bagasi..! Haddduuuhhh....!! Hari itu, begitu landing, imigrasi penuh bangeettt..! antrian mengekor..counter yang buka cuma dua..! ya! dua! Kebayang gak sih?! kapan ya indonesia bisa punya loket - loket yang banyak? minimal kayak changi airport aja deh.,. dan begitu antri bagasi, saya dan teman baik saya sampai harus menahan pegal, karena gak ketemu trolley. Gak taunya, hari itu ada rombongan pulang umroh,, jadi semua trolley dipakai buat itu rombongan.. Aduh..! Norak.! beneran..! gimana ceritanya trolley bisa abis cuma karena rombongan pulang umroh?! tapi saya merasa wajar aja deh.. lebih tepatnya maklum. Karena kan gitu, orang indonesia kalau pulang dari luar negeri, semua keluarga, dari paling bocah ampe paling tua, harus kebagian oleh - oleh. Jadi bagasi bejibun itu sudah biasa dan dimaklumi. 

Begitu keluar airport, saya langsung pesan taxi. Selama kami jalan keluar dari area pengambilan bagasi menuju ke arah stand taxi, saya langsung lihat rombongan orang penuh berdiri! teryata mayoritas keluarga yang jemput rombongan umroh.. saya sampai bilang teman baik saya, " gilaaa.. untung mereka gak heboh teriak - teriak ya.. kalau gak, saya bakal merasa macam artis korea datang ke indo! ". dan sahabat saya pun tertawa. Kami pun naik taxi dan pulang ke rumah masing - masing. Good bye Singapore!