Saturday, 2 April 2016

Trip To Bangkok : Episode 2 : Vihara to Vihara

Yaaa..sesuai judulnya ya, wihara ke wihara. Bener - bener kota Bangkok itu isinya wihara. Dimana - mana pasti ada pusat pemujaan. Setelah tidur cuma 4 jam, kami bangun, mandi dan sarapan. Sarapan di hotel tempat saya menginap itu cukup mewah menurut saya. Ada Nasi, tumis sayur, sosis, telur, salad, sereal dan roti. Semuanya saya cobain, gak mau rugi. Saya menginap di daerah Silom. Nama hotelnya Heritage Hotel - Baan Silom. Setelah jalan - jalan, kami pun bersiap jalan ke tujuan pertama, yaitu Wat Arun.

Wat Arun
Ada yang belum tahu apa itu Wat Arun? Wat Arun adalah salah satu kuil terletak di barat sungai Chao Praya. Letaknya persis di tepi sungai. Paling mudah kalau ke Wat Arun itu naik perahu. Kalau hotel - hotel mahal di sekitar pinggiran sungai Chao Praya, seperti Peninsula, Shangri-La, Sheraton, Mandarin Oriental, mereka memiliki perahu sendiri dan design sendiri. Tamu yang menginap bisa memakai kapal kapan saja untuk pergi ke Wat Arun, yang penting info ke hotel mengenai jadwal pemakaian. Karena saya menginap di daerah silom, saya harus jalan kaki lumayan jauh. Padahal kalau mau naik Skytrain juga bisa. Saya cukup naik dari Surasak, turun di Saphan Taksin. Begitu turun, dibawah sudah Center Pier, atau pelabuhan Saphan Taksin. Kalau pas kita berpergian di hari kerja, bukan saat long weekend, anda bisa naik perahu yang untuk masyarakat local, cuma THB 14 sekali jalan per orang. Berhubung kemarin saya pergi pas long weekend paskah, ya dapatnya yang khusus turis. Sekali jalan THB 40 per orang. Tapi kapalnya besar dan manusiawi, bukan kapal nelayan. Dari center pier, kita turun di N8 / Pier 8.  Begitu sampai, kami masih harus menyebrang dengan kapal, cukup bayar THB 3 per orang. Sampai begitu menapak di tanah, saya masih berasa goyang - goyang kayak di laut.

Wat Arun
Saking panas, begitu tiba, saya beli buah potong. Wadduuh.. beneran deh. Bangkok itu surga buah dan minuman. Buahnya bagus - bagus, manis - manis, trus jusnya pun asli, bukan dikasih pemanis dan dicampur. Setelah segar, sepupu saya mengingatkan persyaratan masuk kuil. Hampir semua kuil menerapkan peraturan yang sama. Harus pakai baju yang sopan, dalam arti pakai celana panjang, baju gak boleh lengan buntung. jadi kalau pakai kaos oblong, harus berlengan. Boleh lengan pendek, boleh lengan panjang. Cuma berhubung panas, siapa sih yang mau pakai lengan panjang? ahahhaha.. Dan seperti pada umumnya, tiap pergi ke daerah atraksi turis, pasti ketemu orang indonesia deh. Bukan saya benci ma orang indonesia ya, tapi males aja, kalau jalan - jalan ketemunya 4L ( Loe Lagi Loe Lagi ). Mayoritas turis di Bangkok, rata - rata orang Jepang, China dan Eropa. Jadi dimana - mana saya cuma denger bahasa mandarin dan jepang. 

Setelah tiba di Wat Arun, saya harus mengakui pendapat sepupu saya, bahwa kuil paling cantik dan iconic itu adalah Wat Arun. Kenapa? karena kuil ini, tidak terlalu besar, dan designnya menarik, Dibuat dengan hiasan pecahan porselen, dan pecahan tersebut disusun membentuk bunga, daun, dll. Warnanya dominan kuning, biru dan hijau. Sayangnya pada saya berkunjung, Wat Arun sedang dalam perawatan, jadi tidak bisa naik dan melihat ke dalam kuil. Jadi saya cuma selfie dan foto - foto saja. Dari Wat Arun, kami menyebrang sungai lagi menuju Wat Pho.

The Reclining Budha
Ada apa di Wat Pho? Wat Pho adalah salah satu kuil tertua di Bangkok, namun paling terkenal karena  The Biggest Reclining Budha. Areanya juga luas, walau tidak seluas area Grand Palace. selama 4 hari disana, saya jadi bertanya - tanya sendiri. Kenapa semua patung Budha di Bangkok, kalau gak lagi tiduran, ya duduk. Saya sampai berpikir apa senimannya kurang ide? atau memang ada unsur agama dan kepercayaan sehingga sepertinya semua seniman bikin patung Budha, kalau gak tiduran ya duduk. Hahahaha... mungkin kalau ada teman yang ahli, boleh bantu menjelaskan. Namun memang patung budha tidur di Wat Pho ini besar dan panjang! Beneran! sepanjang jalan dalam ruangan kuilnya, itu beneran panjang! 

Dari Wat Pho, kami naik bus ke market dekat Grand Palace, niatnya mau makan siang. Tapi ternyata, marketnya lagi tutup separuh, karena lagi renovasi. Jadi lah kami makan di restoran kecil di dalam market, satu - satunya restoran paling adem dan bersih di area market tsb. Saya makan Stir Fry Pork with garlic, dan sepupu saya makan kwetiaw goreng seafood. Rasanya? yaaa..enak, lumayan, bisa dimakan. Habis makan, barulah kami masuk ke Grand Palace. Ya amppuuunn... isinyaaa,,, orang semuaaa..! Gilaaa.. rame pake banget! Saya sampai malas ngebayangin jalan di tempat rame begitu. Masalah muncul, karena satpam disana reseh! Dari satpam sampe aunty - aunty nya juga reseh. Saya ceritanya pakai baju lengan buntung. Di Wat Arun dan Wat Pho, selama pakai pasmina, dan tertutup lengannya, boleh masuk, bahkan dengan celana panjang 3/4 ( dibawah lutut, setengah betis ), Di Grand Palace, saya kudu sewa baju, walau gratis tapi tetep deposit. Harga depositnya untuk atasan THB 200, bawahan THB 200. Jadilah saya deposit THB 500. Deposit dikembalikan setelah baju yang kita pinjam dikembalikan. 
Our Lunch


Di Grand Palace, highlight nya adalah patung budha dari Giok. Tapi,, patungnya kecil di puncak. Keren sih, secara kiri kanan bawah, itu semacam kotak - kotak dilapis emas dan permata. Banyak umat budha berdoa disana. Dan di dalam area patung budha ini, sama sekali tidak boleh foto. Begitu foto, si petugas akan mendatangi anda, dan minta fotonya dihapus. Parahnya anda bener - bener bakal dipelototin sama petugasnya. Jadi si petugas akan liat ada hapus foto dari hape atau kamera. Gak bisa kabur deh. Area Grand Palace ini pun besar, dan sepertinya gabung dengan tempat tinggal raja sekarang. Namun tentu saja, istana raja yang sekarang sudah modern. Bangunannya perpaduan eropa dan thailand. Indah..! seandainya saya punya rumah kayak gitu..saya pastilah adiknya Gu Jun Pyo atau Tao Ming Tse..wkwkwkwkwkw...

Grand Palace
Dari Grand Palace kami menuju Kao San Road. Salah satu jalan atau tempat paling happening di Bangkok. Isinya tempat pijat, tattoo, bar, restoran dan hostel. Semua tumpah ruah disini. dari Grand palace, bisa naik tuktuk, Bayangin aja, dari si supir tuktuk minta bayaran THB100 per org, akhirnya jadi THB 60 buat 2 org. Bener - Bener deh. Dari Kao San Road, kami rencana mau pulang. Tapi pada saat naik taxi, si supir taxi ini cemberut karena daerah ke arah tempat kami menginap itu macetnya parah abis. Akhirnya si supir taxi menyarankan kami naik kapal lalu turun di Central Pier atau Saphan Taksin. Waaahh..ide cemerlang! Walau saya akhirnya kena cipratan air sungai Chao Praya karena duduk di dekat pinggir perahu.

Tiba di hotel, kami langsung meluruskan kaki. Pegal kaki kami, kawan. Setelah puas duduk, kami naik tuktuk lagi ke Phat Phong Night Market, sekitar 1km dr tempat kami menginap. Phat Phong night Market ini mengingatkan saya akan Mangga besar. Pasar malam, ada jualan baju, tas, celana, dll, namun di kiri kanannya banyak pub, club malam, dan tempat - tempat agak mesum. Belanja disini, juga harus jago nawar. Saya dan sepupu niat mau beli baju lengan buntung buat dipakai ke ayutthaya. Harga awal THB 600, Setelah tawar menawar alot, akhirnya 1 kaos harganya jadi THB 100! Ngeri saudara - saudara! ini sama parah kayak  belanja di china. hahahaha..Beli celana juga sama. Dari harga THB 600, turun jadi THB 150. Astaganaga..! Top markotop dah sepupu saya! Tapi ternyata memang pasaran harga celana itu THB 150 - 200. Kenapa? karena tidak jauh kami jalan, ada yang jual celana dengan harga THB 150an. Satu pesan saya, kalau yang punya toko adalah Lady Boy, mohon jangan tawar menawar, atau dia bakal ngambek dan bener - bener ngambek sampai cuekin anda dan tidak mau melayani! Trust Me, saya sudah mengalaminya!


Modern Palace