Sunday, 3 April 2016

Trip To Bangkok : Episode 3 : Ayutthaya, The Old Capital of Thailand

Awalnya, saya itu gak kepikiran mau ke Ayutthaya. Tapi last minute, sekitar 1 bulan sebelum berangkat, gak tau kenapa, saya bilang sama sepupu saya, saya mau ke Ayutthaya. Berhubung dia juga belum pernah ke Ayutthaya, dan gak tahu di Ayuttahaya ada apaan, dia cari tahu cara pergi kesana. Saya sendiri juga akhirnya penasaran, ada apa di Ayutthaya. Semua teman, orang Indonesia pada nanya ke saya, ngapain ke Ayutthaya? Ada apa di Ayutthaya? Lihat apa di Ayutthaya? Saya cuma bisa jawab, ya jalan - jalan, lihat - lihat disana. Trus pada nanya, Ayutthaya itu apa? Busseeettt.. gak pernah belajar sejarah ternyata. Ya, Ayuttahaya adalah ibu kota lama Thailand sebelum pindah ke Bangkok. Banyak ahli yang mengatakan bahwa Ayutthaya adalah The Origin of Thai Culture, benar - benar asal muasal kebudayaan Thailand. Kalau mau lihat seperti apa kebudayaan asli di Thailand, Ayutthaya adalah tempat yang tepat. Di Sana benar - benar terlihat kebudayaan asli Thailand. Saya pun harus mengakui, tidak banyak orang Indonesia, maupun travel agent dari Indonesia yang memasukkan Ayutthaya kedalam daftar itinerary sebagai objek wisata. Karena letaknya cukup jauh. Naik kereta makan waktu 1,5jam sampai 2 jam perjalanan, Kalau dengan mobil bisa 4 - 6 jam perjalanan. Keburu habis waktu dijalan. Namun saya anjurkan, kalau memang mau menderita sedikit, gak rugi ke Ayutthaya.

Pagi itu, demi bisa hemat waktu, kami pun harus berangkat pagi - pagi dari hotel untuk ke Ayutthaya. Kami berangkat dari hotel sekitar jam 7 pagi, dan dapat kereta sekitar jam 8 kurang, walau akhirnya keretanya juga terlambat datang. Kalau berangkat dari Bangkok, kita bisa naik kereta dari Stasiun Hualamphong dan turun di stasiun Ayutthaya. Tentu pada bertanya - tanya, seperti apa kereta di Thailand. Kereta di Thailand, juga ternyata import dari Jepang. Bentuk sama seperti KRL Commuter Line, tapi di dalamnya mirip kereta yang dipakai utnuk rute luar kota, macam rute Gambir - Bandung, atau Bogor - Sukabumi. Cuma bedanya Non-AC. Ada sih yang AC, cuma udah penuh dan anehnya tiket kereta hanya bisa di booking 20 menit sebelum kereta tiba. Hahahaah.. primitif! di Jakarta aja udah bisa pesan online, bayar online, ini masih kudu antri. Dalam hal ini, saya masih lebih bangga sama Jakarta deh. Tuh kan jadi promosi dukung Ahok deh. Wkwkwkwkwkw... Lanjuuttt... Tempat duduk di dalamnya, hadap - hadapan. Jadi dengkul dan dengkul saling menempel satu sama lain. Karena tidak ada AC, jadi di dalam itu cuma ada kipas angin, dan jendelanya dibuka lebar - lebar, tidak ada satupun jendela yang ditutup. Jadi kebayang, sepanjang jalan, saya angin - anginan dekat jendela! Itu kalau abis keramas, saya gak perlu blow rambut buat keringin rambut. Duduk 10 menit dekat jendela kereta api aja udah langsung kering! Kereta ke Ayutthaya, ada 2 jenis. Ada kereta buat penduduk, biasa rute ini tujuannya ke Chiang Mai, tapi stop di beberapa stasiun, termasuk Ayutthaya. Keretanya udah pake lokomotif. Tapi ada juga, kereta khusus turis, harga lebih mahal, tapi lebih elit. Kenapa? karena khusus turis, keretanya tidak ramai, dan yang paling lucu, keretanya masih pakai lokomotif kuno, yang ada cerobong asapnya, dan keluar suara mendesis - desis di roda nya. Tuuutt... ttuuuttt...!! Sampai iri saya lihatnya! ahahahaha...

The Buddha
Begitu tiba, saya sama sepupu saya bengong, karena bingung tidak ada kendaraan umum. Di depan stasiun cuma ada bus tingkat lebih tepatnya, bus luxury untuk perjalanan jauh, dan tuktuk. Saya mungkin lebih tepat sebutnya oplet macam di film Si Doel. Nah, deal harga sewa tuktuk pun harus hati - hati. Saya ditawarin, THB 1000 per orang. Akhirnya si supir bilang THB 1000 buat 2 orang, buat 3 jam. Gila ajaaa.. i have no money,bro..! akhirnya tawar menawar, dapat deal THB 600 buat 2 orang, buat 3 jam. Nah, harganya fair enough lha. Dan kami pun pergi keliling Ayutthaya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah wihara. Yes, jangan lelah ya, kalau kerjaan saya sepanjang jalan - jalan cuma keluar masuk wihara, secara emang cuma itu doank objek wisatanya. Di wihara ini, dibilang ada patung Buddha yang besar. terpaksa saya masuk, dan lihat - lihat juga, walau kurang nafsu. Setelah lihat - lihat kurang lebih 15 menit, saya pun keluar dan menuju tempat berikutnya. 


Wat Yai Chaya Mongkol
Berikutnya saya mengunjungi situs kuil tua, bernama Wat Yai Chaya Mongkol. Kuil ini dibangun pada masa Raja U-Thong. Namun beberapa ahli sejarang mengatakan, stupa yang ada di kuil tersebut sebetulnya dibangun bahkan sebelum Ayuttahaya ditemukan. Awalnya kuil ini dipakai untuk menampung para biksu yang baru pulang belajar dari luar Thailand, namun seiring sejarah berjalan, kuil ini dijadikan penanda kemenangan Raja Naresuan atas serangan Burma. Yang saya suka dari kuil - kuil atau candi - candi di Ayutthaya adalah design arsitekturnya lebih dipengaruhi kebudayaan Hindu. Hampir semua situs bersejarahnya dibuat dari batu bata. Bahkan ada beberapa patung yang dibuat dari susunan batu bata, lalu dilapis semen lagi supaya halus dan kelihatan bentuk patungnya. Di Wat Yai Chaya Mongkol, anda bisa naik ke puncaknya. Di atas, anda akan melihat sumur yang cukup dalam dan banyak orang percaya, sumur tersebut bisa mendatangakan berkat. Sumur itu sendiri sudah kering, namun banyak orang yang melemparkan koin ke dalamnya, lalu berdoa. 


The Sleeping Buddha at Wat Yai Chaya Mongkol
Wat Mahathat
Dari Wat Yai Chaya Mongkol, saya beranjak ke situs yang merupakan highlight kota Ayutthaya. Ada yang tahu? Ya! Highlight di Ayutthaya adalah patung kepala budha di bawah pohon, orang local menyebutnya Wat Mahathat. Kompleks kuilnya cukup besar dan luas. Memang satu kota Ayutthaya itu sepertinya merupakan tempat tinggal raja, dan pusat pemujaan seluruh keluarga kerajaan. Saya harus akui, sebagian besar turis yang datang adalah turis barat dan Jepang, Tidak ada turis indonesia maupun cina yang datang ke sini. Saya sendiri tidak bosan melihat situs sejarah di Ayutthaya. Lebih terkesan misterius dan mistis dibanding kuil - kuil di Bangkok. Mungkin karena kota Ayutthaya dulunya adalah pusat kebudayaan agama Buddha, dan banyak biksu dan pengikut agama Buddha hidup dan tinggal disini sampai serangan dari Burma yang membakar habis kota Ayutthaya sehingga penduduknya terpaksa pergi dan meninggalkan kota Ayutthaya. Dari segi arsitektur pun, saya lebih suka kuil dan candi di Ayutthaya. 

Ayutthaya Historical Park
Selanjutnya, kami pergi mengarah ke Ayutthaya Historical Park yang diakui dan dimasukkan dalam list UNESCO World Heritage. Dalam arti, kota Ayutthaya sendiri diakui sebagai pusat arkeologi, sejarah dan asal muasal kebudayaan asli Thailand. Kalau kita lihat bangunan peninggalan zaman dulu, saya sering bilang, orang zaman dulu lebih kreatif dan hebat dibanding arsitek zaman sekarang. Contoh aja Borobudur. Candi tanpa semen, bangunan yang merupakan batu yang ditumpuk dan diukir sedemikian rupa menjadi untaian kisah sejarah. Gilaaa.. kebayang gak gimana sulitnya bangun itu candi? dan susun ulang candi yang udah runtuh? Sama seperti Ayutthaya, kota penuh kuil dan candi, saya sendiri bingung, gimana mereka bias bangun candi sebegitu megah dan agung! 

The Grand Palace
Dari Ayutthaya Historical Park, kami beranjak ke Grand Palace Ayutthaya. Kami tidak masuk ke dalam, namun hanya foto - foto di luar area saja. Karena jujur sudah capek dan kepanasan, juga duit udah tipis, dan waktu sewa kendaraan sudah hampir habis. Jadi kami terpaksa cepat - cepat foto lalu kembali ke stasiun. Kami pun minta di drop ke restoran yang tidak jauh dari stasiun untuk makan siang, Sehingga setelah makan siang, kami bisa pergi sendiri ke stasiun tanpa perlu naik tuktuk lagi. Tidak banyak yang bisa di foto, karena sebetulnya memang situs sejarah yang ada,sudah menjadi puing - puing. Jadi kita pun hanya bisa berandai dan mengira-ngira seperti apa kota Ayutthaya zaman dulu sebelum terjadi serangan dari Burma.

My Lunch, Padthai