Wednesday, 19 August 2015

PART 2 : LIBURAN AGAK MENDERITA : Terapung - apung di Laut

Sesuai judulnya, setelah tiba di Bakauheni bagai zombie, kami terapung - apung dalam kapal lagi selama hampir 6 jam. Ketika kami tiba di Bakauheni, kami disuruh naik angkot yang sudah disediakan menuju pelabuhan kecil, namanya Pelabuhan Canti, sekitar 1 jam lebih dari Bakauheni. Subuh - subuh begitu, karena takut masuk angin, sampai di Bakauheni, kami buka bekal, nasi dan teri balado buat isi perut daripada masuk angin dan mabuk laut pada saat menyebrang dari pelabuhan Canti ke Pulau Sebesi. Sepanjang jalan dari pelabuhan Bakauheni sampai Pelabuhan Canti, saya untungnya bisa tidur, sehingga bisa mencharge tenaga buat snorkling pagi.

Pelabuhan Canti
Begitu tiba, langit masih gelap di sekitar pelabuhan canti, jalanan saja sepiii bangeett. Cuma ada warteg yang buka, itupun yang beli adalah peserta tour yang mau menyebrang ke Pulau Pahang atau Pulau Umang atau ke Pulau Sebesi. Setelah tiba, saya langsung cari WC umum, cuci muka, ganti baju buat snorkling. Sarapan di warteg, setelah itu bersiap naik ke kapal. Sekitar jam 7 pagi, kami sudah siap menuju kapal yang akan mengantar ke tempat snorkling. Kapal yang dipakai menurut saya tidak besar, secara cuma kapal tempel. Hanya saja, ruanganya kecil, sampai saya perlu menunduk setengah membungkuk dan membuat pinggang dan punggung saya sakit, ditambah jendela kurang lebar, hal ini membuat penumpang gampang mabuk laut karena luas pandangan mata jadi sempit. Sepanjang jalan menuju tempat snorkling, saya hanya bisa tidur bersandar pelampung dan tas.
Spot snorkling pertama adalah Pulau Sebuku Besar. Hari itu, pas laut agak butek. Kalau dari atas perahu memang kelihatan ikan - ikan nya berenang, tapi begitu menyelam, pemandangan bawah lautnya jadi buram dan tidak kelihatan,. Menurut para nelayan dan penduduk desa, waktu paling bagus mengunjungi tempat ini sekitar bulan Maret.


Pemandangan laut Sebuku Besar
Saat tiba di Pulau Sebuku Besar, saya langsung saja bersama 3 teman nyebur ke laut. Sedangkan satu teman saya tiduran karena mabuk laut. Ternyata keputusan untuk menyebur itu keputusan yang salah, karena setelah kami menyebur, ternyata ombak cukup besar, sehingga hanya bisa snorkling sebentar, setelah itu naik kembali ke kapal. Begitu di dalam kapal, mabuk laut datang menyerang. Bahkan sampai saat saya menulis blog ini, rasanya badan saya masih bergoyang seperti masih duduk di dalam kapal..! Teman saya ada yang muntah, lalu ada yang hanya bisa bersandar di dalam kapal. Saya langsung otomatis fokuskan pendengaran saya ke suaran mesin kapal,  lalu memejamkan mata. Akhirnya saya tertidur juga. Saat ke spot snorkling kedua, saya terbangun dan benar saja, ombaknya cukup besar, sehingga lagi - lagi, kami yang duduk di dalam kapal langsung pusing dan mabuk laut. Setelah sesi snorkling selesai, kami pun menuju ke Pulau Sebesi, ke tempat penginapan kami berada. Kami tiba sekitar pukul 13.00 di Pulau Sebesi. Penginapannya menurut saya, lebih bagus daripada saat saya menginap di Pulau Tidung. Jendela dan pintu penginapan semua menghadap ke laut, jadi udara laut masuk ke dalam kamar dan membuat kamar tidak terlalu panas. Ditambah, langit - langit kamar atau plafonnya cukup tinggi. Jadi menurut saya, tempat penginapannya cukup baik untuk ditempati.

Jangan bertanya pada saya seperti apa menu makanannya. Karena menurut saya, namanya liburan ke pulau, apalagi daerah kepulauan di indonesia, jangan terlalu berharap makanannya enak dan wah. Namun secara keseluruhan, kalau saya harus kasih nilai dari skala 0 - 100, saya kasih nilai 60 untuk menu makanannya. 

Listrik di Pulau Sebesi hanya ada dari jam 18.00 - 24.00. Jadi saat jam menunjukkan pukul 18.00, semua orang otomatis mengeluarkan segala macam jenis colokan. Dari colokan iPhone, smartphone, colokan batere kamera, colokan powerbank, semua keluar. Kabel langsung berseliweran di dalam kamar. Sampai saya sendiri bingung, saking itu kabel panjang banget, saya melihat teman saya menggulung kabel aja langsung takjub.

Kamar tempat menginap
Malam harinya, saya hanya sanggup duduk - duduk di sotoh penginapan sambil mengobrol dengan beberapa teman. Teman saya yang lain sudah tertidur pulas karena nyaris semalaman tidak tidur. Sedangkan beberapa teman lain, karena tuntutan pekerjaan mereka yang harus memberikan sumbangsih kepada masyarakat, maka malam harinya, mereka berkeliling ke desa tidak jauh dari tempat kami menginap. Kalau berdasarkan info teman - teman, mereka melihat bintang di langit. Suatu pemandangan yang jarang, bahkan mustahil bisa dilihat di Jakarta. Bintang bertebaran di langit malam, sambil merasakan angin sepoi - sepoi dari pantai, membuat suasana lebih indah. Beberapa teman lagi, bahkan ikutan nonton panggung dangdut hiburan masyarakat setempat walau untungnya tidak membuat heboh penduduk sampai jadi bintang tamu di acara dangdut tersebut. Hehehehe..

Setelah acara panggung dangdutan, kelompok kami, bertotal 11 orang, langsung rapat dan berdikusi mengenai acara besok. 6 orang yang tadinya mau extend, akhirnya akan ikut pulang besok hari bersama dengan rombongan. Dan sampailah di masalah paling pelik. Besok mau ngapain? Kalau lihat jadwal dari tour operator, kami harus bangun jam 2.30 pagi, lalu jam 3.30 menyebrang ke pulau Krakatau buat hiking dan pasang bendera merah putih. Setelah itu sarapan, lalu lanjut snorkling di Lagoon Cabe. Saya sih langsung menentang dan jujur saya sendiri kecapekan. Ditambah sebelum pergi saya juga sudah kena flu. Untungnya, salah satu member kelompok kami dapat info dari penduduk setempat untuk kegiatan keliling pulau. Di Pulau Sebesi, bisa melihat - lihat danau, meneropong Gunung Krakatau, lalu bermain di pantai di ujung pulau. Waahh.. saya langsung tertarik. Jadi kami berlima memutuskan untuk mencoba keliling pulau. Sedangkan 6 org yang lain, memutuskan trekking ke Gunung Krakatau. 

Kapal Tempel

To be Continue...