Thursday, 20 August 2015

PART 3 : LIBURAN AGAK MENDERITA : We are Coming Home ( terapung - apung..lagi.. )

Pagi itu kami bangun. Matahari bersinar cerah, udara laut terasa segar dihirup. Hmmm... dan tentu saja, setelah itu lapar menyerang. Saya pikir saya bangun kesiangan, karena semalam rencana jalan - jalan ke menara teropong sekitar jam 9 pagi. Saya pikir sudah jam 8 pagi, tapi teman saya langsung koreksi, kalau saya bangun jam 6.30. Wow,,mataharinya udah cukup terang benderang padahal baru jam 6.30. Setelah malas - malasan, saya bangun dan cari sarapan. Saya dan teman - teman sepakat untuk makan indomie. Saya bahkan sampai makan 2 porsi indomie pake telor plus susu coklat. Kebayang gak gimana laparnya saya setelah hampir 2 hari penuh makan makanan kurang gizi? Sekarang saat menulis blog aja, saya jadi ngiler pizza. Setelah sarapan dan bersih - bersih selesai, kami pun bersiap jalan mencari ojek. Yep, ojek! Kenapa? Heran di pulau ada ojek? Jangan heran lah. Menurut saya motor itu memang kendaraan paling ramah dan efisien. Kenapa? kalau harus diangkut ke pulau, pakai kapal tempel juga bisa. Bensin gak perlu banyak - banyak. Kondisi jalan di pulau, sudah pasti gak ada yang beton atau aspal. Kalau naik mobil, pulaunya juga gak gede, jalan raya yang ada bahkan lebih kecil dari ukuran mobilnya. Jadi paling cocok memang harus naik motor. 

Jalanan menuju Pantai Pasir Hitam
Semalam, salah satu teman sudah tanya - tanya biaya sewa motor atau ojek, bahkan sampai nanya sewa penginapan. Biaya sewa motor/ojek IDR 50.000 per motor. Sedangkan rumah penduduk yang dijadikan penginapan, disewakan IDR 300.000 per rumah. Khusus sewa rumah, berapapun orang yang tinggal di dalam 1 rumah, tetap hitungnya IDR 300.000 per rumah. Termasuk murah. Tapi jangan mengharap rumahnya kayak rumah di kota. Namanya rumah di pulau biasanya ya rumah desa biasa. Walau rata - rata rumah di Pulau Sebesi dindingnya sudah bertembok. Untuk sewa ojek juga tidak bisa mendadak. Kalau bisa 1 hari sebelum sudah info untuk pesan ojek nya. Kami sendiri dari malam sudah coba kontak yang punya motor, tapi gak diangkat. Jadi lah akhirnya kami nekad ke tempat sewa motor / ojek ini. Kami sewa 5 motor sekaligus. Begitu jalan di jalanan tanah dan debu, saya sampai ngebayangin : "Mungkin keren kali ya, kalau ini 5 motor harley dan bukan 5 motor bebek? tukang ojek pakai kacamata hitam dan jaket kulit hitam.. trus tiba - tiba muncul dari balik debu jalanan dengan kacamata, jaket dan motor mentereng? tagline : The Harleys in Sebesi Island". Hahahahaha.. sayang aja, abang ojek nya body kurang geger kayak pengendara motor gede di film - film Amerika. 


Pantai Karang Lebar / Karang Luas
Setelah berpegal - pegal dengan pinggang dan pantat, tibalah kami di menara teropong krakatau. Saya sendiri berpikir namanya menara tempat teropong harusnya tinggi dan gede. Boooo... ini mah cetek banget. Ukurannya paling hanya seukuran rumah 3 lantai, dengan luas 3m x 3m. Kecil bangetttt..Sayang saya tidak foto menaranya. Saat tiba, pas lagi ada kabut yang menghalangi pandangan dari Pulau Sebesi ke Gunung Krakatau. Jadi saya tidak bisa melihat Gunung Krakatau. Menurut penduduk lokal, biasanya tanpa teropong pun, bila tidak berkabut, Gunung Krakatau itu terlihat jelas dari pantai. Akhirnya, untuk menghibur hati sedih karena tidak bisa meneropong Gunung Krakatau, maka kami pun foto - foto di pantai. Pantai yang ada di sekitar menara teropong ini, semuanya dipenuh karang. Dibilangnya Karang Luas, karena memang luas dan mirip lapangan, karena karangnya tidak runcing - runcing menonjol. Namun membentuk suatu daerah hamparan luas. Kalau tidak pakai sepatu atau sandal, sudah pasti kaki anda berdarah - darah karena diadu dengan batu karang.


Pantai Karang Luas
Dari sana, kami menuju pantai pasir hitam. Ya memang sih, pasir di pantai ini halus dan warnanya agak hitam, bukan coklat. Tapi dalam bayangan saya, yang namanya hitam, harusnya yang hitam pekat, bukan agak hitam atau agak abu - abu gelap. Pantai Pasir Hitam cenderung sepi, dan tidak ada wisatawan. Karena memang yang tahu hanya penduduk lokal saja. Saya saking sukanya duduk dibawah pohon di tepi pantai, sambil dengerin suara ombak, rasanya jadi kebayang : " nikmat ya, kalau bisa duduk dibawah pohon, melihat laut dan dengerin suara ombak sambil ngopi dan browsing internet? trus menikmati angin laut yang sepoi - sepoi. Indah benar hidup ini kalau bisa jadi kenyataan! " Setelah puas main - main di pantai, kami pun kembali ke penginapan melewati jalanan yang bergelombang dan berlubang. Pinggang ini mau patah rasanya, tapi untung terbayar dengan indahnya pemandangan yang kami nikmati. 


Begitu kami berlima tiba di penginapan, kami langsung bertukar cerita dengan 6 teman kami dari kelompok lain yang ikut hiking di Pulau Krakatau. Mereka cerita bahwa capek banget hiking di atas pasir. Butuh tenaga extra untuk hiking di atas pasir. Walau bagus sih pemandangannya karena kiri kanan semuanya pohon pinus. Namun saat pulang, karena ada 1x sesi snorkling di Lagoon Cabe, teman - teman kami tidak bisa langsung pulang. Malah harus ikut terapung di dalam kapal selama 15 - 30 menit, namun pada akhirnya, sesi snorkling itu pun batal, karena ombaknya besar dan kapalnya juga ikut terombang ambing sampai salah satu teman kami puas mabuk laut, bahkan muntah - muntah di kapal.  Saya jadi ikutan pengen muntah dengernya. Begitu tahu bahwa ombak cukup tinggi, penduduk lokal pun menyarankan agar secepatnya pulang, jangan sampai kesorean, karena makin sore ombaknya bisa makin tinggi. Untung saja, tidak lama panitia tour ini mengumumkan jam pulang jam 14.00 siang. Kami pun berkemas dan menuju dermaga untuk siap - siap pulang. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kami pun memutuskan untuk duduk di atap kapal. Ya atap kapal! Kalau pada bertanya, " emang gak panas? gak takut hitem? gak takut angin?", saya akan bilang, " kalau udah dihadapan mabuk laut, mending saya bertahan panas - panasan dan angin - anginan deh, daripada mabuk laut sampai muntah - muntah. " 

Pantai Pasir Hitam

Pemandangan dari atap kapal
Akhirnya saya dan teman - teman, kami berlima duduk di atap kapal. Sedangkan 6 teman baru kami, memilih kapal lain yang lebih manusiawi. Gimana rasanya duduk di atap kapal? Rasanya kayak lagi arung jeram dan naik kora - kora. Saya biasa minum antimo 1 tablet bisa langsung tidur, ini tidak ngantuk sama sekali. Saking takut jatuh dari atap kapal karena menerjang ombak. Belum lagi kami juga harus jaga tas masing - masing, jadi mana ada waktu buat ngantuk dan tidur? Saya harus acungin jempol melihat salah seorang nelayan bisa asik tiduran di atap kapal, persis di pinggirnya. Saya dan teman -teman yang duduk di tengah atap aja waswas. Ckckckckc.. saya langsung kagum. Perjalanan 1,5 - 2 jam dan duduk di atas atap kapal emang agak bikin boring. Secara kiri kanan cuma ada air laut dan ombak. Boro - boro ada putri duyung atau cwo ganteng lagi berenang. Sepiii..sampai saya sendiri bosan. Duduk udah pegal, foto - foto udah puas. Mau ngapain lagi? tidur ngeri jatuh menggelinding ke laut. Serba salah! Saya udah pakai kain bali buat menutupi muka supaya tidak kena matahari terlalu parah. Walau tetap saja, kulit saya jadi agak tanning gitu. Setelah 1 jam terapung, tidak lama saya lihat seorang bule keluar dari dalam kapal dan manjat atap kapal. Biar kata kulitnya putih dan emang sudah pucat, saya yakin 100% dia juga mabuk laut. Secara, gimana gak mabuk laut dengan kapal jendela kecil dan langit - langit yang kecil gtu? Belum lagi gelombang laut yang tinggi. Saya yang duduk di atap aja bisa beberapa kali kecipratan air laut, apalagi dia yang duduk didalam kapal?!


Pasir Hitam
Setelah tiba di Pelabuhan Canti, saya pun turun dan segera mencari Indomart atau apapun yang ada kata 'mart' nya. Saya mau minuman dingin dan es krim. Saya langsung beli es krim dan pocari sweat. Gilaaa..!! seger banget rasanya..! Begitu berkumpul kembali dengan kelompok kami, saya lihat teman kami ada 1 yang sudah mabuk laut parah. Muka pucat pasi, bahkan katanya sudah puas muntah berkali - kali di kapal. Kami pun langsung suruh dia minum susu beruang, makan yang manis - manis dan yang dingin - dingin biar agak segar sedikit. Dari Pelabuhan Canti, kami disuruh lagi naik angkot ke Pelabuhan Bakauheni. Dan kali ini, biar kata sama sekali gk macet, kami baru tiba di Pelabuhan Bakauheni sekitar jam 19.00 malam. Kami pun makan dulu, baru setelah itu naik ke kapal. Kami dapat kapal jam 20.30. Suasanya berbeda jauh dibanding saat kami berangkat. Sepanjang koridor dan lorong pelabuhan menuju kapal, sepiiiii...beneran sepiii banget.. cuma kami bersebelas aja. Saya sampai merasa gak yakin kalau ini menuju kapal ferry saking sepinya. Namun untung juga sih sepi. Kami sudah lelah kalau harus adu body lagi hanya untuk masuk kapal ferry. 


Kelas Lesehan
Kami segera masuk ke dalam kapal ferry. Tidak tahunya, mereka tidak ada kelas II AC. Hanya ada lesehan AC dan ekonomi. Terpaksa kami ambil yang lesehan. Tadinya saya agak gak suka. Namun begitu saya bandingkan, lesehan masih much better daripada yang ekonomi. Jadilah saya duduk di kelas lesehan. Kabar baiknya, ternyata malam itu, petugas kapal ferry ini memang punya taste. Mereka menyediakan jasa pijat. Duuhh.. enaknya! saya sih gak minta dipijat, secara tukang pijatnya cowo semua, gak ada yang cewe. Ditambah, mereka juga puter film yang bagusan sedikit, setidaknya film hollywood, seperti Fury, Journey to the central earth. Beda banget sama film macam tutur tinular , dkk. Kalau mau dibuat perbandingan, lesehan sebenar enak juga. Hanya saja, biar kata itu kapal ferry besar, begitu saya tiduran / telentang, saya tetap bisa merasakan tarikan kapal bahkan bisa merasakan gerakan gelombang laut nya. Berbeda kalau kita duduk di sofa atau kursi tidak begitu terasa. Tapi begitu tiduran, terasa sekali tarikannya. Namun berhubung ada film bagus, saya cuek aja sampai tidak terasa perjalanan telah berakhir dan kapal sudah merapat di Pelabuhan Merak. Sampai di Pelabuhan Merak, kami semua segera ke WC karena perjalanan masih cukup jauh. Saya sendiri tiba di rumah pukul 01.00 dini hari. Sedangkan teman - teman saya yang lain tiba di rumah pkl 2.00 dini hari. 

Secara keseluruhan, ini liburan tercapek dan menyiksa yang pernah saya jalani. Mungkin karena memang tour operator yang membuat acara ini, benar - benar hanya tahu bagaimana berbisnis / cuma mau duit tapi tidak tahu cara entertain tamu. Kalau harus jujur, saya kecewa dengan layanan tour operator tsb. Semuanya tidak terkoordinasi dengan baik. Saran saya, kalau pakai tour operator lokal, apalagi trip ke pulau, harus hati - hati dan rajin cek jadwal serta penginapan. Next time, saya akan langsung tolak mentah - mentah liburan yang kayak begini.

Pagi di pantai pulau sebesi