Friday, 22 March 2013

PENANG bikin Pening : Episode 4

Ada yang suka minum cendol? Ada yang tahu apa itu cendol? Hehehe..jangan - jangan biar kata orang Indonesia, tapi tidak pernah minum cendol..hehehe... Sebetulnya, saya juga bisa dibilang jarang minum cendol. Sekedar pengetahuan saja, Cendol terbuat dari tepung beras yang diolah dan diberi pewarna hijau alami, biasanya dari daun suji, dan dicampur sedikit daun pandan agar wangi. Disajikan dengan es serut, gula merah cair dan santan. Kalau di daerah Sunda lebih dikenal cendol, kalau di daerah Jawa disebut Dawet. 

Saya termasuk salah satu orang yang tidak suka minum cendol, apapun merk cendolnya. Sebut saja Es Cendol Keraton, yang disajikan dengan sedikit durian. ( Catat : Sedikit..seimprit..nyaris tidak terasa duriannya ). Padahal saya pecinta durian, tapi kalau dicampur cendol, saya jadi tidak suka. Ada lagi es cendol gerobakan di dekat kantor, yang disajikan dengan tape / tapai, yaitu singkong yang difermentasikan. Alasan saya tidak suka Cendol sangat sederhana. Saya tidak suka minuman yang terlalu manis. Kebanyakan orang bikin Cendol, biasanya cendolnya lembek dan pasti gula jawa / gula merahnya kebanyakan, atau dibuat terlalu kental sehingga rasanya maniiisss banget. Menurut saya, pasti karena lidah orang Jawa itu suka rasa manis yang benar - benar terasa manisnya, tidak bisa manis yang cuma samar - samar.

Es Cendol Penang
Berbeda dengan Penang. Begitu saya ke Penang, saya juga heran, saya bisa minum cendol bahkan sampai tambah lagi. Hahahaha... Cendol di Penang berbeda dengan cendol di Indonesia. Kalau cendol di Penang, bentuknya panjang, seukuran spaghetti, tapi pendek - pendek dan yang terpenting kenyalnya pas, tidak blenyek atau lembek. Gula merahnya juga tidak terlalu manis, pas manisnya. Tempat saya minum Cendol ini tidak jauh dari Tun Abdul Razak Square. Letaknya di dalam gang kecil. Minum cendol disana pun karena kami tidak sengaja lihat antrian yang ramai orang. Ooo..ternyata jual cendol toh? Jadi saya pun coba cendolnya, tidak tahunya, rasanya sesuai banget dengan apa yang saya inginkan. Tidak kemanisan, cendolnya tidak lembek. Cendol di Penang, disajikan juga dengan kacang merah. Sayang aja di fotonya, tidak keliatan kacang merahnya :)



Antrian Cendol
Selain cendol, ternyata di Penang jual rujak juga. Namanya pergi sama emak - emak, pasti doyan deh cari rujak. Saya sih tidak terlalu suka rujak, tapi yang namanya cicip - cicip boleh donk? hahahaha...
Kami makan rujak di dekat hotel, sejajar dengan tempat kami menginap, tiap malam ada pasar malam yang jual makanan. Jadilah kami cari rujak. Rujaknya cukup unik dan enak. Isinya sama seperti kebanyakan rujak, ada jambu, nanas, mangga, bangkuang, kedondong. Tapi diberi tambahan cakwe yang digoreng kering sekali sampai kriuk kriuk alias garing. Setelah makan rujak, saya pun coba jus kedondong, yaaahh...tetap ya, biar kata namanya jus kedondong, tetep aja sepuhan alias syrup, bukan sari kedondong asli :)


Jus Kedondong

  
Rujak 




Tentu saja, namanya Malaysia, pasti punya duplikat masakan Indonesia, salah satunya Nasi Kendar. Masakannya mirip seperti masakan Minang, atau yang kita sebut Masakan Padang atau Nasi Padang dan berciri khas, banyak minyak, gurih, cabenya bikin merinding, tapi gak pedas :)


Nasi Kendar
Di Penang, Nasi Kendar ini beneran pedas, lumayan bikin lidah sedikit terbakar karena pedas. Porsinya cukup untuk dua orang. Ayamnya besar, cuminya besar. Begitu mau makan, saya agak takut kalau ayamnya ayam suntikan. Maklum, ukurannya jumbo juga, bukan standard ayam kampung :) Harganya terbilang cukup mahal. Nasi + Sayur + Ayam + Cumi = RM 8, atau sekitar Rp. 24.000. Lumayan juga sih, karena Nasi Padang di Jakarta, seperti Sari Bundo, Garuda, Natuna, Sederhana, Simpang Tiga, harganya juga cukup mahal. Terakhir makan di salah satu resto padang itu, cuma nasi pakai ayam goreng, daun singkong, minum es teh, harganya Rp. 41.000, idiihh,,,mana harganya mahal, ayamnya jaaauuuhh lebih kecil dari pada yang saya makan di Penang. Udah gitu, banding dengan Nasi Padang tidak jelas merk seperti Nasi Padang di gang, yang biasa sejejer sama warteg aja, ayamnya masih lebih kecil daripada yang di warteg gitu. Ckckck... Cuma menang ruangan ber-AC.

Nah, yang menarik, Penang memiliki makanan khas atau oleh - oleh khas. Apakah itu? Mau tahu? Yaaa..! Oleh - oleh khas Penang adalah Pia. Soal rasa, jangan tanya deh. Menurut saya masih enak bakpia pathok jogja, yang nomornya banyak versi,mulai dari nomor 77,75,76,dll. Kelebihannya pia di Penang adalah kemasan, serta tampilan pia yang menarik mata. Soal rasa, ya gitu deh. Harga satu kotak pia beragam. Tergantung isinya. Paling murah isi kacang ijo, kalau saya suka sebut, pia orisinil atau original flavour. Hahahaha... Satu kotak harganya sekitar RM 10 - 12.

Pia  
Kalau punya kesempatan lagi, saya pengen banget ke Penang lagi buat makan - makan. Hahhahaha...